4 tahun silam (3)
Hari demi hari kulewati, entah berapa banyak air mata ku keluarkan, serasa menjadi kering mata ini dan tak mampu lagi aku menangis, yang pasti aku tak pernah bosan setiap senin aku memasukan lamaran lewat kantor pos karena datang langsung tidak mungkin, selain waktu juga ongkos aku tak ada, uang yang aku pegang hanya cukup untuk biaya cetak lamaran dan foto copy dokumen pelengkap. Beruntung di dekat sekolah anak – anak ada warnet sehingga aku bisa menyewa komputer dan mencetak lamaran. Dan entah karena baik atau kasihan atau entah menaksir aku, penjaga warnet tak pernah meminta bayaran sewa komputer, yang dia tagih hanya biaya cetak Rp.500 / lembar dan biaya foto copy yang cuma di tagih Rp.50/lembar. Alhamdulillah…ada yang masih baik kepadaku. Jika aku tidak pulang, sambil menunggu anak – anak aku buka – buka internet mencari lowongan kerja, sering pula penjaga warnet itu memberiku teh botol, mengajakku ngobrol dan memberi informasi – informasi yang berguna buatku. Aku masih ingat namanya Agus, asal dari Kebumen – Jawa Tengah, orangnya baik dan sangat baik lah, karena dia banyak membantuku juga sikapnya sopan. Terkadang aku juga menitipkan surat lamaranku padanya jika dia akan membeli kertas dan lewat kantor pos. Saat ini kabar terakhir darinya katanya dia sudah menikah dan punya anak 1. Syukurlah…
Tak terasa kepedihan dan rutinitas memberatkan telah berjalan 3 bulan di rumah itu, Nadit mulai baik dan agak mengerti kesopanan, tidak begitu banyak membentak dan berlaku kasar, entahlah mungkin Tuhan telah menyentuh hatinya, melembutkan perasaannya. Dan ini membuat neneknya senang, meski terkadang bila menjaga anak – anak waktu ikut belanja mamanya ke mall aku harus seperti polwan, karena bisa tiba – tiba menghilang, dan aku bisa di marah di tempat itu pula di hadapan sekian banyak orang,tapi aku tetap bersabar…aku masih kuat…
Tak jarang pula aku mesti bertemu temen – temen, dan mereka juga seperti tidak kangen dan akrab seperti waktu aku masih bekerja di kantor itu, disaat aku masih punya uang untuk mentraktir mereka,berbelanja dan hura – hura… mereka hanya cuma menyapa apa kabar, dimana sekarang de el el… sudah, dan lalu pamit …its ok lah aku juga ga mau banyak berbasa basi dan berbohong ini itu…goodbye lah..
Terkadang melihat barang – barang di mall ada juga keinginan, tapi hanya keinginan saja karena nyatanya aku tak mampu membelinya… buku saja mesti foto copy apalagi membeli baju model terbaru…tutup mata saja lah..
Tanggal 17 November 2004… yup pas di hari ulang tahunku jam 10 pagi aku mendapat telepon di HP ku, aku mesti wawancara di Bank Danamon Pancoran, aku bingung mesti bagaimana, jika aku datang apakah aku tidak di marahi oleh majikanku, tapi kalo tidak datang untuk apa selama ini aku mengirim lamaran kerja sembunyi – sembunyi ? Pusing saat itu, namun aku beranikan bilang pada majikanku sejujur – jujurnya tentang panggilan test interview itu, dan alhamdulillah…..ternyata di luar dugaan…mereka mengijinkan dengan tersenyum…tak terasa setelah sekian lama aku tak menangis aku kembali menangis karena bahagia, tak henti aku mengucap terima kasih yang di sambut dengan senyum meraka, dan mereka juga memberi tau mesti naik apa dan arahnya kemana, dan aku diberinya uang Rp.25.000 untuk ongkos perjalanan…ya Allah tak lepas aku bersyukur atas semua anugrah_Nya, meski aku tak tau apakah aku nantinya di terima atau tidak, yang penting semangat dan berusaha, tak boleh kecewa jika gagal, karena berarti kemampuanku belum sampai, itu yang kutanamkan di hati dan pikiranku.
Malam itu aku benar – benar tak bisa tidur meski lelah terasa mengurus anak – anak dan rumah. Hatiku terus berharap, akhirnya aku mengambil air wudhu dan sembahyang, aku memohon berkahNya, pertolonganNya, dan semuanya yang terbaik buatku…. akhirnya aku bisa tidur dan bersiap untuk esok hari…
Bersambung….
4 tahun silam (2)
Dari sinilah babak baru kehidupanku di mulai, betapa aku mesti mengurus 2 anak perempuan dengan 2 perbedaan watak yang sangat jauh. Namun ku berusaha sabar meski ku harus tidur di atas karpet di sebuah kamar yang menurutku mirip sebuah gudang karena sangat berantakan dengan berbagai macam isi yang tidak teratur, semua serba menumpuk dan bermacam – macam jenis barang. Hingga tengah malam aku tak bisa tidur meski berusaha memejamkan mata…tiap malam ku selalu teringat almarhumah mamaku,mengadu dalam hati dan menangis sampai terpejam. Namun kukuatkan hati ini ku alami untuk membuktikan bahwa aku bukan wanita lemah terinjak dengan diam dengan kelakuan bejat seorang laki – laki tak bertanggung jawab, toh diapun sengsara karena mesti keluar kerja pula meninggalkan jabatan yang dia banggakan, dan mesti menerima penilaian buruk pula dari masyarakat, beruntung aku tidak mengadukan pada polisi, aku masih punya hati untuk tak melihatnya di dalam penjara sana!
Pelan – pelan ku coba kubur semua amarah, dendam dan pedihku. Pagi jam 5 aku harus sudah bangun kemudian memasak air panas untuk anak – anak itu, dan kemudian mandi dan sholat subuh. Ritual membangunkan anak – anak dimulai, aku ingat yang bernama Nadit sangat sulit dibangunkan dan kuat sekali membentak bentak meski otaknya lumayan pintar, namun sulit sekali makan dan dia ajak belajar. Lain dengan Nian adiknya yang penurut dan tidak susah dalam hal apapun meski otaknya tidak seencer kakaknya, waktu itu Nadit kelas 3 SD dan Nian kelas 2 SD. Anak – anak itu cantik namun juga memiliki traumatis karena kekerasan seorang ayah dan kemudian tinggal dengan ibu dan nenek kakeknya karena bapaknya dipenjara karena ulahnya kepada istrinya hingga melahirkan sebelum waktunya karena di tendang, itu cerita anak – anak dan melihatkan foto – foto prosesi pemakaman adik mereka. Hatiku tambah sakit mendengar ada lelaki lebih jahat dari yang ku kenal, pantas saja Nadit selalu berlaku keras karena bentuk protes atau mungkin saja meniru tingkah bapaknya, tapi…aku cuma bisa diam dan menasehati pelan agar tidak seperti itu, tapi yah…lagi – lagi aku ini cuma pembantu, tak mungkin di dengar….
Sampai akhirnya jam mandi tiba , aku lebih dulu membangunkan Nian, memandikannya, mendandani dan menyiapkan sarapannya ( dia tidak pernah minta di suapi ). Lalu setelah itu aku terpaksa mengangkat Nadit meski meronta dan berteriak, namun harus ku lakukan juga karena bisa ketinggalan masuk sekolah, karena nanti saat sudah dalam kamar mandi meski membentak dia akan diam juga saat kumandikan, selesai itu pasti minta di gendong dan barulah kudandani, kusuapi meski sulit sekali, karena matanya terus saja ke arah TV yang sedang memutar film kartun Dora, sering kali sendok dan gelas terjatuh karena kibasan tangannya, duh…aku mesti bersabar sekuat tenaga juga jiwa, demi Rp,600.000 dan demi kuliahku yang tinggal 1 semester lagi dan membuat skripsi.
Jam 6.45 aku mengantar mereka ke sekolah yang tidak begitu jauh dari rumah di antar mamanya ( ibunya sekalian berangkat ke kantornya ). Sebelum bel berbunyi aku mesti menunggu anak – anak sampai masuk kelas, karena Nadit bisa kabur bila tidak di jaga.
Dan selama menunggu aku sering ditanya asal dari mana, pembantu sudah berapa lama dan lain sebagainya, dan kujawab saja dengan jawaban2 pendek, aku tak mau mereka tau aku sebenernya seperti apa. Biarlah toh aku memang pembantu saat itu.
Setelah anak – anak masuk kelas aku berjalan pulang, dan terkadang aku mampir ke kantor pos untuk mengirim surat – surat lamaranku diam – diam. Aku bergegas pulang untuk segera membereskan dan membersihkan kamar – kamar mereka, pakaian mereka, buku – buku , mainan dan semua perlengkapan mereka. Jika selesai awal aku pasti membantu nenek mereka memasak, mungkin dari rajinnya aku nenek mereka sayang padaku, dan itu yang membuat pembantu rumah tangga di rumah itu cemburu dan selalu memusuhi aku dan sering berbuat jahat padaku, namun aku tak mau melawan, aku memilih menyendiri di gudang atas dan membaca buku – buku kuliahku sampai tiba waktunya menjemput anak – anak.
Di samping gudang inilah aku sering menangis mengadu pada mamaku, membuat berlembar – lembar tulisan di buku tulis yang kugunakan sebagai diary. Seakan aku ingin mati saja saat itu, apalagi bapak dan semua keluarga tak pernah ku kasih tau dimana dan bagaimana aku saat itu, yang jelas aku tetap harus mengirim uang untuk sekolah adikku yang masih SMP, dan beruntung adiku tidak boros sehingga uang yang sedikit itu digunakan dengan baik, meski dia hampir tak pernah jajan, dia hanya di traktir teman kalau selesai mengerjakan PR mereka, dan syukur pada Allah karena adiku sangat pintar dan selalu ranking 1 di sekolahnya, ini juga meringankan biaya sekolahnya karena mendapat bea siswa di sekolah Negeri ternama di kampung ( adik dan bapak tidak tinggal lagi di Jakarta ).
Selesai membaca buku – buku kuliah aku menjemput anak – anak, dan ini yang paling menyengsarakan karena Nadit sangat manja dan selalu minta gendong padahal badannya cukup berat, tapi beruntung Nian mau berjalan dan membawa tas kakaknya yang penuh berisi buku dan mainan yang dibelinya. Aku berjalan sekitar 500m dengan menggendong Nadit yang terkadang sangat nakal dengan memukul – mukul pundak dan menarik rambutku, namun aku tak pernah memarahi, karena dia pasti akan mengadu pada mamanya yang tidak benar.
Lalu kebiasaan buruk Nadit pun kembali ada, dia melempar sepatu, baju sekolah dan apapun yang dia pakai, tidak seperti Nian yang begitu baik. Terkadang sepatu mengenai mukaku, dan dia malah tertawa, duh Tuhan rasanya aku ingin marah tapi aku tak mungkin…. Dan jika Nian memarahi kakaknya mereka lantas berkelahi dan ini akan lebih repot lagi karena akan lebih banyak barang berhambur…
Ritual menyebalkan lain mesti kulakukan, aku menunggui Nian makan dan menyuapi Nadit ( terbalik bukan ? ). Dan jika lauknya merasa tidak sesuai di lidahnya dengan mudah dia menyemprotkan kemuka ku, oh.. panas hatiku mesti ku pendam jauh…lagi – lagi demi kuliahku, kiriman sekolah adiku dan demi perutku !
Setelah itu mereka mesti tidur dan bangun jam 3 sore, kemudian aku memandikannya , mengajari mengerjakan PR meski sering kali ditinggal main – main dan di bentak Nadit, lain dengan Nian yang memang tak pernah rewel sama sekali, cuma agak sulit menangkap pelajaran. Namun aku lebih menyukainya karena dia paham sekali dengan kesedihan aku, dia sering bilang ” jangan sedih ya kak….” itu sudah cukup menguatkan aku.
Jam 5 aku serahkan mereka pada neneknya dan aku berangkat kuliah dengan membawa uang pas buat ongkos saja, itupun dari uang sisaku dan terkadang ditambah dari neneknya anak – anak Rp.5000. Ongkos PP tiap hari adalah Rp.7000, itupun ada yang kusambung dengan jalan kaki, tak mengapa yang penting aku bisa kuliah. Ditempat kuliah aku memang dari awal adalah tipe pendiam, sehingga tak sulit bagiku menyembunyikan keadaanku, paling hanya kadang ada yang bertanya kok pulangnya beda arah. Jam 10 malam kuliah sudah selesai, jika ada tumpangan yang bisa mengurangi ongkos aku pasti ikut.
Sampai rumah jam 11 malam aku tak langsung tidur karena mesti membereskan buku – buku anak – anak, mainan yang berantakan juga pakaian dan sepatu yang akan di pakai besok serta perlengkapan dandan mereka, kebetulan rambut mereka panjang dan mesti memakai aksesoris yang berganti – ganti. Belum lagi juga menyiapkan pakaian mama mereka juga menyemir sepatunya, sebenarnya ini bukan bagianku , tapi yah aku tidak bisa menolak…Jam 1 malam biasa aku mulai membaringkan tubuhku di atas karpet, tanpa kipas dan mulai mengadukan isi hatiku pada almarhum mama, dan menangis hingga terlelap.
Bersambung……
4 Tahun silam (1)
Hari ini serasa penat, jenuh tiba – tiba menyergap, aku turun dan berjalan jalan ke toko di bawah kantorku, aku berjalan penuh diam sehingga tak seorangpun berani mencandai aku, hanya teguran kecil yang kubalas dengan senyuman…meraka sangat paham jika aku begini berarti aku sedang full job. Sampai di ujung lorong kosmetik aku duduk di antara barang – barang yang baru datang, tak sengaja aku menatap seorang wanita muda ( menurut aku masih abg mungkin ) dengan berpakaian dan dandanan seronok menurutku, mungkin karyawan karoke sebelah pikirku. Aku masih belum habis pikir kenapa pakaian yang menurut aku pantas untuk malam – malam bersama suami kok dipakai untuk belanja, tapi ah…. biarlah kenapa aku harus mengurusi orang lain?
Aku masih duduk diam dengan membuat pita – pita kecil dari sisa kertas kado, tiba – tiba wanita itu sudah berdiri didepanku, menanyakan beberapa merk kosmetik, namun aku kembali heran kenapa merk merk yang tidak terkenal da tergolong murah yang dia tanyakan, ah mungkin memang dia cocok dengan yang dia minta. Aku ambilkan beberapa sample ( sebenarnya ini bukan tugasku, tapi penjaga konter sedang sibuk ), kuserahkan pada dia, tapi bukan langsung mengambil tapi dia malah mengajaku bicara, dia menanyakan lowongan kerja di toko. Aku menjawab ada dan kutanya apa lulusannya, dia bilang SMP, hmm aku bingung karena ga sesuai kriteria yang aku cari untuk pengganti Anisa. Kemudian dia bilang kerja apa saja mau asal halal. Aku masih diam karena dia kemudian bercerita panjang lebar, ternyata dia bekerja di sebuah kompleks tempatnya para HB.
Dia bercerita dari awal sampai akhir kenapa dia seperti itu dan sampai dia lari ke Tarakan, hanya semata – mata karena lelaki yang tak bertanggung jawab sehingga dia dimusuhi saudara, dijauhi teman dan masyarakat. Dan yang membuat aku terenyuh adalah saat lari dia sedang hamil! Namun dia keguguran dikapal dalam perjalanan ke Tarakan. Astagfirullah! Betapa aku lupa akan semua penderitaanku karena ternyata ada yang lebih menderita dariku. Dia menangis namun tak keluar air mata, hanya berkaca dimatanya, namun aku tau hidupnya sangat pedih. Wanita cantik dan muda kenapa mesti menderita?
Sekilas ku terbayang kenapa aku bisa sampai Tarakan juga, tak jauh beda kisahku dengannya, namun ada sisi lain yang berbeda. Ku pernah mengalami hal terpahit itu, dicampakan dan terbuang dari saudara dan teman, begituhina di mata masyarakat. Sering kuhabiskan waktu malamku di tempat hiburan bersama teman – teman yang baru ku kenal, merokok namun aku tak pernah minum ataupun melacur, aku masih bisa menahan diriku untuk tidak jatuh ke lembah itu, aku memang kotor namun aku tak mau mencari uang seperti itu, meski aku harus terlantar menginap dimana yang mau kutumpangi tidur.
Beberapa tahun silam…saat yang kelam, tanpa bekal banyak aku pergi entah kemana sampai akhirnya kubertemu seorang rektor sebuah Universitas di sebuah terminal bersama istrinya, mungkin karena pakaian aku yanglusuh dan muka yang kotor dan membawa tas pakaian ,mereka kira aku dari kampung dan mau mencari kerja. Saat ditanya mau kemana aku cuma menggeleng, dan kemudian dia tanya saudara2 aku, aku bilang gak ada…kemudian entah karena kasihan dia membawa aku kerumahnya di Rawamangun, aku sempat takut karena rumahnya begitu besar, begitu indah, namun aku di ajak masuk.
Sampai disana aku ditanya maukah bekerja menjaga cucu mereka, mengantar sekolah, menunggui belajar dan menunggui saat makan. Aku teringat aku masih belum selesai kuliah dan aku butuh biaya, akhirnya aku jujur bercerita semua masalahku dan kuliahku. Akhirnya di ambil kesepakatan, aku boleh kuliah malam. Betapa bahagia saat itu, aku terima saja perjanjian kerja yang hanya dibayar Rp.600.000.
Bersambung…
SEMBILU…
Air mata…janganlah kau luruh mengalir membasahi pipiku, cukuplah sudah kau menemaniku dengan segala kepedihan hidupku…cukuplah hanya berkaca dimataku, ku tak ingin kau hadir bersama pedihnya hati ini…
Biarlah aku dengan diam menekuri semua ini, karena tiada seorangpun membutuhkan hadirku dalam hatinya, mengharap senyumku dalam harinya…tak ada yang menginginkan kata sayangku untuk hidupnya….
Tak pantas lagi kumenanyakan dimanakah dirinya…tak ingin aku tau dia tau betapa tertatihnya aku menunggunya…sepanjang waktu, sepanjang hari
Meski ada rasa kangen namun ku mesti menerima tak ada lagi rasa sayang untukku….perih…pedih…namun kuhanya bisa apa, cukuplah aku menelan semua pahit ini jauh kedalam hatiku yang rapuh…
Hilang serasa impian dan cita – cita karena itu hanyalah khayalan semu, tak ada lagi yang kuharap bisa mengerti hatiku, mengaduku pada siapa ?
Namun…kau adalah orang terbaik yang pernah ku kenal meski hanya suara…dan meski hanya sekejap hati
Mengapa hanya sekejap saja, kumerasakan indahnya dengan dirimu
Mengapa hanya untaian kata , kurasa tiada sempurna cerita cinta kita….
Namun apa dayaku, meski ku mohon jangan kau mengalir membasahi pipiku, namun nyata kau tetap mengalir menambah perihnya hati ini, kenapa kesedihan begitu akrab dengan hidupku…secepat ini kuharus merasa betapa sakitnya tak dibutuhkan, tak berguna….aku memanglah sekumpulan sampah tiada berguna dan hanyalah mengganggu pemandangan…
Jikalah aku bisa menyadari…keindahan fisik adalah gairahnya, cantiknya paras adalah kebanggaannya..tak mungkin ku berani menginginkannya karena hanya luka yang akan ku rasa…dan kembali kuberteman dengan air mata yang kubenci ini…
Segala rasa yang tumbuh dalam hati ini mesti layu kembali…tak bisa bersemi dan tumbuh di taman hati, namun jauh terkubur di dasar hati…
Inikah yang mesti kurasa, terluka…pedih…
Biarlah kubawa semua ini dalam hidupku, menjadi kisah pahit yang perih. Biarlah senyumku mengandung luka, tatapan ku berhias perih, dan langkahku penuh pedih….
Maafkan aku pernah hadir dalam harimu, membuat repot harimu, mengganggu hari indahmu yang sesungguhnya tak pantas ku lakukan….
Maafkan aku….pernah mengharapmu hadir memberi bahagia dalam hidupku, seakan ku memaksamu meliputi hatiku dengan sayangmu…
Biarlah disini kujalani kembali hari sepiku bersama pedihku dan biarlah air mata tetap menjadi tumpahan lukaku…
-
Arsip
- Oktober 2009 (1)
- Juni 2009 (5)
- Mei 2009 (1)
- Maret 2009 (4)
- Januari 2009 (4)
- Desember 2008 (7)
- November 2008 (2)
- Oktober 2008 (1)
- September 2008 (4)
- Agustus 2008 (4)
- Juni 2008 (4)
- Mei 2008 (6)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS
