SEMBILU…
Air mata…janganlah kau luruh mengalir membasahi pipiku, cukuplah sudah kau menemaniku dengan segala kepedihan hidupku…cukuplah hanya berkaca dimataku, ku tak ingin kau hadir bersama pedihnya hati ini…
Biarlah aku dengan diam menekuri semua ini, karena tiada seorangpun membutuhkan hadirku dalam hatinya, mengharap senyumku dalam harinya…tak ada yang menginginkan kata sayangku untuk hidupnya….
Tak pantas lagi kumenanyakan dimanakah dirinya…tak ingin aku tau dia tau betapa tertatihnya aku menunggunya…sepanjang waktu, sepanjang hari
Meski ada rasa kangen namun ku mesti menerima tak ada lagi rasa sayang untukku….perih…pedih…namun kuhanya bisa apa, cukuplah aku menelan semua pahit ini jauh kedalam hatiku yang rapuh…
Hilang serasa impian dan cita – cita karena itu hanyalah khayalan semu, tak ada lagi yang kuharap bisa mengerti hatiku, mengaduku pada siapa ?
Namun…kau adalah orang terbaik yang pernah ku kenal meski hanya suara…dan meski hanya sekejap hati
Mengapa hanya sekejap saja, kumerasakan indahnya dengan dirimu
Mengapa hanya untaian kata , kurasa tiada sempurna cerita cinta kita….
Namun apa dayaku, meski ku mohon jangan kau mengalir membasahi pipiku, namun nyata kau tetap mengalir menambah perihnya hati ini, kenapa kesedihan begitu akrab dengan hidupku…secepat ini kuharus merasa betapa sakitnya tak dibutuhkan, tak berguna….aku memanglah sekumpulan sampah tiada berguna dan hanyalah mengganggu pemandangan…
Jikalah aku bisa menyadari…keindahan fisik adalah gairahnya, cantiknya paras adalah kebanggaannya..tak mungkin ku berani menginginkannya karena hanya luka yang akan ku rasa…dan kembali kuberteman dengan air mata yang kubenci ini…
Segala rasa yang tumbuh dalam hati ini mesti layu kembali…tak bisa bersemi dan tumbuh di taman hati, namun jauh terkubur di dasar hati…
Inikah yang mesti kurasa, terluka…pedih…
Biarlah kubawa semua ini dalam hidupku, menjadi kisah pahit yang perih. Biarlah senyumku mengandung luka, tatapan ku berhias perih, dan langkahku penuh pedih….
Maafkan aku pernah hadir dalam harimu, membuat repot harimu, mengganggu hari indahmu yang sesungguhnya tak pantas ku lakukan….
Maafkan aku….pernah mengharapmu hadir memberi bahagia dalam hidupku, seakan ku memaksamu meliputi hatiku dengan sayangmu…
Biarlah disini kujalani kembali hari sepiku bersama pedihku dan biarlah air mata tetap menjadi tumpahan lukaku…
Belum ada komentar.
Tinggalkan sebuah tanggapan
-
Arsip
- Oktober 2009 (1)
- Juni 2009 (5)
- Mei 2009 (1)
- Maret 2009 (4)
- Januari 2009 (4)
- Desember 2008 (7)
- November 2008 (2)
- Oktober 2008 (1)
- September 2008 (4)
- Agustus 2008 (4)
- Juni 2008 (4)
- Mei 2008 (6)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS
