AJARI AKU
Ajari aku menjadi bintang…
Yang tak pernah putus asa hadir di malam panjang…
Walau dia tau kekaguman mata bukan tertuju padanya…
Melainkan pada keindahan sang bulan…
—
Ajari aku menjadi bintang…
Yang mempunyai rasa tak bermasa…
Tetap setia menjadi cahaya kecil di malam panjang…
Walau dia tau sinarnya takkan bisa menandingi sang bulan…
—
Ajari aku menjadi bintang…
Yang tak pernah menyerah hadir di malam panjang…
Dengan segenggam asa dan harapan…
Menghapus setiap jejak kegelapan…
—
Bintang kecil kau bukan primadona malam…
Tapi yakinlah keberadaanmu dibutuhkan…
Sekedar menambah semarak langit menuju siang…
Maka tetaplah TEGAR .
Tentang Pernikahan..
Setiap kali mendengar kabar akan diadakan reuni atau kumpul-kumpul
dengan teman-teman lama semasa sekolah dulu, diri ini langsung
seketika memutuskan untuk tidak datang. Malas. Walaupun panggilan
jiwa untuk bersilaturahmi, menyambung tali persaudaraan seakan keras
memanggil-manggil. Tapi belum-belum sudah terbayang akan lontaran
pertanyaan yg itu-itu juga. Belum lagi rentetan nasehat yang lamanya
bisa sampai berjam-jam. Ditambah juga oleh kata-kata yang dengan alih-
alih memberi semangat, tetapi hasilnya justru sangat menyakitkan
hati. Biasanya kalau itu terjadi.. dipendam saja dalam hati.
Ditenggelamkan bersama lautan kegelisahan dalam hati….
Memang di usia yang sudah wirid ini – usia dia atas 30 tahun, paling
tidak enak kalau sudah dibenturkan dengan pertanyaan “kapan nih
menyusul si A yg baru menikah kemarin ?” dan “Wah kalah dong dengan
si B.. kesusul lagi nih.. ” (memangnya metromini yang saling
mendahului.. ) atau ” Kenapa sih belum menikah, jangan kebanyakan
milih deh… kriterianya sih terlalu tinggi.. !!!” apalagi dengan
kata-kata “Selamat ulang tahun yah… sudah berapa sekarang usianya?
wah, dulu waktu saya seusia kamu, anak saya sudah 2 orang lho…!!”
serta “Inget umur… kasian kan nanti kalau anaknya masih kecil-
kecil, umur kita sudah tua !!”
Mungkin kalian bermaksud baik, ingin agar kami menjadi terpacu untuk
segera menikah. Tetapi pernahkah terpikirkah oleh kalian bahwa
kalimat-kalimat itu akan membuat luka hati kami makin lebar,
menganga…
Sungguh, Demi Allah… kami juga tidak ingin kok terus-terusan hidup
sendiri seperti ini. Kami juga sudah sangat ingin mencari ridho Allah
dengan melayani suami, mengandung, melahirkan, membesarkan dan
mendidik putra-putri agar menjadi anak yang sholeh dan sholehah.
Wanita mana sih yang tidak ingin merasakan kebahagiaan hidup berumah
tangga ?
Tidak usahlah kami terus-terusan dipojokkan dengan sejuta pertanyaan
dan nasehat itu. Bahkan tanpa di dorong-dorong pun, kami sudah sangat
bersemangat menunggu tibanya hari itu. Bukan pula kami tidak
berusaha, hanya Allah yang Maha Tahu, seberapa besarnya kami
berharap. Dan seberapa seringnya kami sudah berusaha. Tetapi apabila
memang jodoh itu belum juga datang kepada kami, apakah kami lantas
harus selalu disalahkan ? dianggap selalu mengulur-ulur waktu? selalu
dihakimi karna dianggap mematok standar yang tinggi dalam menentukan
pilihan hidup ? Bukankah memang kami harus memilih seorang laki-laki
sholeh yang kelak nantinya akan menjadi imam bagi kami dalam rumah
tangga ? Kami tidak mau mencari lelaki sembarangan, yang begajulan,
yang doyan clubbing keluar malam dari kafe ke kafe, yang tangannya
sangat ringan untuk memukul, yang playboy, yang pemabuk, yang maunya
hanya menerima segala kelebihan kami tanpa mau mengerti kekurangan
kami, yang hanya ingin uang hasil kerja kami… Nauzu’ billahi ….
Janganlah dengan gampang menuduh kami tidak berusaha. Tolong jangan
sakiti hati kami lagi dengan pertanyaan yg menyudutkan. Bukankah
lebih baik mendo’akan kami agar segera dipertemukan dengan jodoh yang
terbaik bagi kami..? Insya Allah itu lebih bermanfaat daripada segala
omongan yang hanya menambah gelisah dan luka nya hati ini. Cobalah
untuk meraba isi hati orang lain ketika akan melontarkan sesuatu.
Bukankah kalian adalah sahabat dan teman kami ? kami hanya minta
dido’akan saja. Tidak kurang tidak lebih… karna untuk urusan
pengetahuan tentang pentingnya pernikahan, Insya Allah telah kami
mengerti dan kami dapatkan melalui berbagai pengajian, artikel, atau
referensi lain, ditambah pula dengan dorongan naluri kewanitaan kami.
Sungguh tidak ada yang lebih kami harapkan selain agar kami dapat
segera menyempurnakan 1/2 dari agama kami…
Terima kasih untuk mengerti kami… terima kasih untuk selalu
mendo’akan kami… Semoga Allah selalu beserta orang-orang yang
selalu menjaga perasaan saudara-saudaranya… Amien..
Wallahu ‘alam……
UNTUK ENGKAU YANG JAUH DI SANA…
Wajahmu masih tertangkap halus oleh mataku, halus yang menghangatkan di kala malam, tak ada esensi tak ada durasi, semua menjadi satu dalam satuan tak bernama, bumi berputar namun waktu terdiam…berhenti sejenak demi indah yang tak terbayang, membekukan benak demi sebuah kemolekan yang tak pernah pudar, karena detik ini akan selamanya menjadi saat ini..
Wajahmu masih terbayang dalam ingatanku, ingatan yang telah kucuri untuk kukenang dalam pikiran, tak ada penyesalan dan tak ada kecurigaan, semua melebur total dalam lautan kasih sayang..Dusta tak pernah membawamu kembali kesini, bahwa tiada cinta selain perasaan, dan tak ada ikatan selain jarak yang memisahkan, meski tak terhiraukan detik detik aku mencarimu, meski tak terperi semua keindahan bersamamu, meski di akhir jalan semua lekas berlalu, karena semua kenangan dan sepi tetap ada jika kau tiada..
Kemarin, hari ini dan esok, aku masih merasa kehilangan, walau kasihmu ikut tertangkap oleh mataku, walau sayangmu turut terbayang dalam ingatanku, karena aku tetap merasa memilikimu meski jauh di sana…
Meski waktu berjalan hingga detik ini, meski sapamu pergi entah kemana, meski sepi menghampiri, meski pedih menyelimuti, namun hatiku tak bisa berpaling melupakanmu, rindu semakin erat menggelayuti hati, entah kan kusandarkan kemana jikalau engkau berlalu pergi..
Dalam lekat sepi kuselalu menanti sapa rindumu, menunggu dalam getar asa ku, berharap dalam halus perasaanku, hingga tak terasa air mata mengembang hangat dalam mataku…kembali hati bertanya..dimanakah dirimu, masihkah merinduiku, masihkah aku dalam ingatanmu, masih mungkinkah ada pertemuan kembali, masih adakah kata sayangmu untukku…semua tanya tertumpah dalam hatiku, semakin menambah derasnya air mata mengalir dipipiku…kerinduan…kenapa hanya menghadirkan perih di hati, meluapkan air mata dalam sepi…
Kerinduan atau rasa kehilangankah yang kurasa ini…
4 Tahun silam (4)
Lama juga yah ga melanjut ceritaku…sebenernya males sih mengingat – ngingat masa pahit itu, tapi biarlah biar aku tak lupa masa – masa itu…
Waktu itu paginya aku bangun pagi – pagi sekali langsung mandi dan sholat subuh, tak lupa aku memohon kepada Allah untuk memberikan berkah dan ridhonya semoga semua berjalan dengan lancar dan aku bisa bekerja yang lebih baik dari kala itu ( menjadi perawat anak ).
Jam 6 aku berangkat menuju Pancoran menggunakan bis Mayasari, aku berdoa disepanjang perjalanan, entahlah apa kata orang bilang karena melihatku sangat tegang, tapi aku tak perduli orang sekeliling yang berdesakan dalam mobil menuju tempat kerjanya, mereka sih enak biar berdesakan tapi sudah jelas dan pasti mereka menuju ke tempat pekerjaannya, sementara aku masih harap – harap cemas apakah ini rejekiku atau bukan, ah semoga semua baik – baik saja pikirku..terus aku berdoa sampai pada akhirnya tiba di pancoran jam 7.30. Masih terlalu pagi, tapi biarlah dari pada terlambat. Aku pun mampir ke tempat penjual bubur , aku membeli dan segera sarapan. Sempet juga di tanya – tanya sama tukang bubur ya aku jawab saja mau interview di Bank itu..
Selesai sarapan aku duduk diam, dan kembali terpikir anak – anak di rumah di urus oleh mama dan neneknya tentu ada yang kena cubit. Selagi aku diam hp ku menerima sms, dan saat aku buka ternyata dari ibunya anak – anak yang adalah majikanku, aku ditanya sudah sampai belum dan juga doa semoga aku diterima, aku jawab sudah dan meng aminkannya, duh betapa baik majikanku itu…
Jam 9 tepat aku segera masuk Bank itu beserta kandidat lain, sempet miris melihat penampilan dan gaya mereka, mungkinkah aku diterima? Lagi – lagi rasa minder menguasai, tapi hatiku bertekad aku gak boleh minder, dan tetep menyerahkan segalanya pada Yang Maha Kuasa..
Semua dipersilahkan masuk dan segera mengisi bio data serta test tertulis, aku berusah tenang dan mengisi hati – hati, meski disediakan tip-x aku jangan sampai sempat menggunakannya karena itu pengurang point tersendiri bagiku. Selesai mengisi formulir itu kami dipersilahkan menunggu hasil dan bagi yang lolos langsung interview di ruang sebelahnya.
Harap – harap cemas aku menantinya , dan dari sekitar 15 orang itu hanya akan dipilih 5 dan akan diambil 2 jika lulus nanti, entahlah mau jadi apa aku tidak tau. Aku sendiri lupa waktu itu melamar di bagian apa, mudah – mudahan sesuai dengan kemampuan yang aku punya.
Dua jam menunggu hasil sudah di beritahukan satpam, ya Tuhan aku termasuk di antara yang lulus….tak henti aku mengucap syukur pada Allah dan rasanya aku hampir menangis, namun perjuanganku belum berakhir, masih ada seleksi interview… tapi setidaknya aku bisa merasakan kebahagiaan ini karena termasuk dalam kategori 5 besar itu. Dan karena interview akan dilakukan jam 1 , kami ber lima keluar sebentar mencari makan siang, namun aku tak ikut makan karena aku tak tenang dan juga uang saku yang kubawa takut tidak cukup, lagi pula pagi sudah sarapan jadi masih kuat, aku hanya membeli teh botol, cukuplah untuk mengurangi rasa dahagaku.
Duh hari sudah malam…lanjutannya besok lagi ah…
-
Arsip
- Oktober 2009 (1)
- Juni 2009 (5)
- Mei 2009 (1)
- Maret 2009 (4)
- Januari 2009 (4)
- Desember 2008 (7)
- November 2008 (2)
- Oktober 2008 (1)
- September 2008 (4)
- Agustus 2008 (4)
- Juni 2008 (4)
- Mei 2008 (6)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS
