Gitasyahni’s Weblog

Senandung hati mengungkap jejak langkah kaki hidupku…

KADO ULANG TAHUNKU

Bisa jadi saya anak yang paling malang di antara anak-anak lain di kampung. Bukan hanya karena ibu jarang memberi uang untuk jajan di sekolah, sehingga saya sering menghabiskan waktu istirahat sekolah untuk mereka-reka berapa uang jajan si A, apa yang selalu dibeli si B, atau memperhatikan nikmatnya es doger di tangan si C. Bahkan untuk merayakan hari ulang tahunku yang setahun sekali pun mama tak melakukannya.

Tidak ada tepuk meriah teman-teman, tidak juga tiupan lilin di atas kue tart yang selalu saya saksikan di setiap perayaan ulang tahun si A, si B, juga si C. Tidak ada balon, hiasan khas ulang tahun, dan yang pasti, tidak mungkin saya berharap ada kado ulang tahun. Siapa yang mau ngasih? Tak ada pesta, ya tak ada kado.

“Mama ga mampu kasih kamu kado…” sapa mama mengagetkan lamunanku. Sejenak kemudian saya masih terdiam membayangkan gerangan kado apa yang akan diberikan mama. Sampai akhirnya, sebuah doa terajut dari mulutnya disertai kecupan hangat di kening dan pipiku.

Seketika, sebalut kehangatan terasa menelusup ke setiap aliran darahku. Doa mama, jauh lebih indah dari hiruk pikuk tepuk tangan, tak bisa dibandingkan dengan kue tart termahal sekalipun. Lilin merah dengan api menyala, balon dan hiasan ulang tahun jelas tak seindah doa mama. Untaian kalimat pinta yang dirajut mama, bahkan lebih sempurna dari gaun ulang tahun milik siapapun.

Kehangatan kecupan mama jelas lebih sejuk dari jutaan ucapan selamat dari siapapun. Tak ada satupun bingkisan ulang tahun yang mampu menandinginya, kecupan mama adalah kado termahal yang pernah kuterima.

Dulu, saya terjatuh saat pertama kali belajar naik sepeda. Saya menangis karena dua sebab, kaki saya memar dan sedikit berdarah tepat di lutut kanan, dan kemudi sepeda saya bengkok. Bapak segera mengangkat sepeda sementara mama langsung memapahku. Tak ragu, mama mengusap air mataku dan memberikan satu usapan dan tiupan pada luka di kakiku.

Sentuhan mama juga yang mengantarku masuk ke ruang kelas saat hari pertama sekolah. Mulanya saya takut, mungkin ini juga yang dirasakan setiap anak yang baru pertama kali masuk sekolah. Dalam pandanganku, bangku-bangku sekolah dasar, papan tulis, juga meja belajar itu lebih mirip makhluk aneh yang siap menerkamku. Guru dan teman-teman baru itu, lebih terlihat seperti monster menyeramkan bagiku. Tapi, dengan sekali usapan di ubun-ubunku, mama berkata, “Masuklah, anak mama kan pintar…”

Selang sepekan hari sekolah, tepat di pekan kedua, seharusnya saya kembali masuk sekolah. Tapi demam yang menyerangku sejak malam tak kunjung reda di pagi harinya. Saya sedih tidak bisa sekolah hari itu, sedih juga karena tak bertemu teman-teman baik di kelas, dan yang paling menyedihkan tentu saja saya harus tertinggal pelajaran di kelas. Namun ternyata bukan hanya saya yang sedih saat itu, tepat di pinggir tempat tidurku sesosok anggun terlelap lelah setelah semalaman terjaga menungguku, memberiku obat, mendengarkan setiap keluhanku, membetulkan selimutku dan mendekapku erat saat tubuh ini menggigil kedinginan. Di sudut matanya, masih tersisa bekas air mata semalam.

Kini, saya sadari, doa dan kecupan mama lah kado yang paling kuharapkan di setiap hari ulang tahunku. Dan tentu saja, kehadiran mama senantiasa lebih kuinginkan dari sekadar ratusan undangan lengkap dengan ratusan kadonya.

Bagi saya, mama adalah kado terindah di setiap ulang tahunku. Terima kasih Allah yang telah memberikan kesempatan saya untuk bersama mama di hari terindah lalu . Dan saya selalu berharap, di tahun depan mama masih tetap menjadi kado istimewa.Namun…harapan tinggal harapan, hari ulang tahun tak ada yang istimewa lagi sejak kepergian mama, tak ada lagi sentuhan dan doanya.. dan hanya ku bisa mengenang masa – masa indah dulu, hidup dalam kemiskinan namun tak kurang kasih sayang…

Mama, Semakin kumengerti hadirmu dan betapa berat kehilanganmu… Namun apalah artinya sebuah ucapan dan kado istimewa kini, karena hadirmu yang selalu menjadi semangat hidupku, mama..meski mama telah pergi, namun di hati ini mama selalu hadir dalam suka dan dukaku…

Mama..anakmu kini sudah 29 tahun…mudah- mudahan doa2 yang mama panjatkan untukku dulu…semua kan menjadi nyata..amin..

Terimakasih mama…

18 November, 2008 Ditulis oleh gitasyahni | Uncategorized | | No Comments Yet

Belum menikah juga…??

15 November ini genap usiaku 29 tahun, selama itu pula aku merasakan pahit dan manisnya kehidupan yang kujalani. Di sisi ini aku sangat bersyukur karena Tuhan telah mengkarunia aku dengan manisnya kehidupan dan diberi kesempatan mengalami pula pahitnya kehidupan dunia sampai detik ini. Sebenarnya senang sekali apabila melihat tanggal lahir dan hari ulang tahunku, namun segera tersadar ketika ada orang yang mengingatkan dan bertanya, semua bertanya tentang pernikahan, yang bagi aku serasa tamparan! Tamparan yang jatuh di kedua pipiku, menyadarkan aku tentang targetku menikah sudah terlewatkan…

Banyak orang punya cita – cita dengan masa depannya berupa karier apa yang akan diraih, begitupun aku ingin seperti itu dan sukses pula karier sebagai ibu rumah tangga, yang saya anggap sebagai kesempurnaan karier hehehe…

Dari mulai wisuda, pertanyaan kapan menikah dan siapa pacarmu sekarang..sudah sering kali dan akrab ku dengar, dan banyak lagi pertanyaan lain yang cuma sekedar basa basi, tapi selalu ku jawab dalam hati, “pentingkah?”

Kadang aku pengen orang – orang itu bersabarlah, memangnya aku ini gak punya keinginan? Aku gak mati rasa kok.. mereka semua tidak pernah tau, bahwa aku punya cita – cita menikah muda, tapi kalau memang belum ada yang sepakat dan sejalan lantas mau menikah dengan siapa?? Dijodohkan?? Wah tidak ada dalam kamusku sih..jadi rasanya sulit saja… Untuk proses punya pacar saja sulit dan berbelit kayak benang kusut.. apalagi proses menikah…??

Belakangan setelah pekerjaanku mulai mapan, penghasilan yang kata mereka sudah cukup buat bekal menikah, pertanyaan mereka semakin menunjukkan kualitas dan semakin sulit dan kompleks untuk aku jawab!

” Kapan kamu menikah….? Jangan terlalu milih – milih !! Jangan lama – lama lagi..!! Jangan hanya pekerjaan yang kamu pikirkan, duit dan harta tak dibawa mati !!! “

Deg ! Sakit kepala aku rasakan. Sepertinya tidak ada lagi topik pembicaraan yang lain untuk aku selain kalimat itu yah, yang harus jadi makanan sehari hari buat cewek seperti aku, yang menurut mereka sudah kelewat umur ini.

” Kapan kamu menikah ?”

Mana aku tau bapak, ibu, kakek, nenek, uwak, bibi dan tetangga2… ( asal jangan bilang “dengan anakku saja”, gak masalahlah ) mana aku suka dengan segala bentuk perjodohan, bagiku itu semua bukan pilihan! Yah gak tau kenapa sih, cuma kan tidak ada salahnya kalau aku masih mau cari sendiri. Dan memangnya kalau aku masih sendiri sampai sekarang ini aib?! Terus kalau sampai sekarang belum ada juga orang yang ingin menikah denganku dan aku juga sayang pada orang itu, apakah mereka yang dirugikan??

“Jangan terlalu milih-milih !!”

Bapak, emak…milih itu penting! Dulu kalau aku tidak punya cita – cita nikah muda, aku pasti akan kuliah terus menerus dan gak cukup hanya di D3 saja. Karena bagiku, wanita tugas dan pengabdiannya sesuai dengan kodratnya di dapur jadi ibu rumah tangga, bukan melawan emansipasi wanita, tapi jadi ibu rumah tangga itu utama, karier juga bisa jadi pendamping, bukan pokok. Tapi kalau sekarang cita – cita menikah mudaku tidak kesampaian ..apa aku harus merengek – rengek sama pacarku untuk segera menikahiku? Semua itu kan Tuhan yang mengaturnya…

Kalau nanti aku memutuskan untuk menikah dengan seorang laki – laki, itu kan artinya sudah melakukan proses memilih. JIka suatu saat aku menikah dengan laki – laki yang bukan jawa dan berbeda agama, itu artinya saya juga melakukan sebuah pilihan bukan? Intinya memilih itu awal dari sebuah keputusan, itu prinsipku..

Kadang aku menjadi heran dan bingung kalo aku tanya teman – teman kenapa cepat – cepat menikah..Alasannya? Karena umurlah, sudah didesak orang tua yang pengen punya cucu lah, karena orang tua malu lah anak gadisnya gak laku2, takut dibilang perawan tua lah. Takut dengan semua alasan itu?  Hai…kita yang bakal ngejalanin kok! Orang tua hanya akan mengantar kita ke gerbang pernikahan, selanjutnya… tanggung sendiri!

Setiap perbedaan yang ada pada diriku dan dirinya adalah satu hal yang paling penting untuk jadi bahan pertimbangan. Apa aku sudah benar2 yakin dan siap menjalani semuanya? Kamu itu Soulmate – melengkapi. Sama seperti perumpamaan tulang rusuk. Apa aku sudah bisa menerima sifat dan karakter paling buruk yang sudah ada dan mendarah daging berpuluh tahun di dalam dirinya? Apa itu semua bisa hilang seperti sulap kalau nanti sudah dalam status menikah?

Kalau menikah cuma gara – gara karena masalah umur aku rasa itu bukan alasan yang baik. Tidak ada satu manusiapun yang bisa kasih kepastian atau hak paten, umur berapa kita akan mendapatkan kebahagiaan dalam pernikahan. Belum tentu umur 25 untuk wanita dan 30 untuk pria merupakan umur yang tepat untuk melakukan pernikahan, itukan cuma ada dalam undang-undang pemerintah dan pengamatan pemerintah, memangnya yang mau menikah pemerintah, tidak bukan??

“Tidak usah lama-lama lagi”

Kita kan manusia, punya naluri manusia , bukan hewan! Lihat lawan jenis lantas langsung hajar saja. Tak peduli apa jadinya dikemudian hari. Manusia itu memiliki pribadi yang berbeda meskipun kembar sekalipun, apalagi lawan jenis pasti berbeda lah. Pasti butuh waktu untuk saling tau dan mengenal satu sama lain. Benar – benar tau dan mengerti serta bisa menerima kelebihan serta kekurangan pasangan. Tidak maulah mengambil keputusan kilat hanya karena hasrat sesaat dan menyesal seumur hidup. Tidak ada salahnya menghabiskan waktu lebih lama buat pendekatan, pacaran dan si waktu tidak bakal marah – marah dehhh…( ini kecuali yang udah gak tahan di kejar target dan desakan usia )

” Jangan hanya pekerjaanmu yang kau pikirkan, duit dan harta ga dibawa mati!”

Aku tidak terlalu memikirkan pekerjaan kok, yang kupikirkan gaji hehehe.. nikah kan butuh duit, duit kan tidak bisa dipetik dari pohon, ya harus kumpulin lah dari gaji. Lagian makan, bayar rekening listrik, telepon, air, beli susu anak, nyekolahin anak apa bisa pake selembar surat cinta ?Nggak kan?

“Jadi kapan mau nikah?”

Aku ingin sekali menikah, tapi tunggu sajalah waktunya. Tapi dengan alasan yang tepat..Karena aku sadar kenapa dulu Tuhan menciptakan Adam dan diberi teman Hawa. Hidup ini pada waktunya akan terasa berat untuk dijalani sendiri, aku akan nikah karena aku sadar aku sangat butuh seseorang untuk saling mendukung dalam segala bentuk sudut pandang. Baik material maupun spiritual. Aku akan menikah karena aku akan butuh kasih sayang dan dia ( pasanganku ) butuh aku sayangi kan?

Aku akan menikah karena aku juga sudah siap dengan semua hal terburuk yang akan aku alami dengan pasanganku baik dalam hal penyesuaian dan toleransi atas semua karakter dan sifat pasanganku ( begitu juga sebaliknya) Siap menghadapi masalah2 hidup baru, yang akan datang. Bukan cuma dari luar tetapi juga dari dalam, dan hubungan antara mertua dan menantu juga sangat aku pikirkan, ini masalah klasik dalam hubungan berumah tangga kan? karena itu aku sering iri sama Adam dan Hawa , mungkin cuma mereka satu2 nya yang gak punya masalah dalam hal menantu dan mertua hehehe..

Jadi… aku tidak tau kalau ditanya kapan aku menikah? Bisa cepat bisa lama, Bisa bulan depan bisa tahun depan, tergantung Tuhan Sang Pencipta segalanya..Jadi ga usah ditanya tanya lagi yah, kalau sudah tiba waktunya pasti akan ada pengumuman resmi. Kan capek tanya tetapi tidak dapat jawaban, dan aku capek setiap saat ditanya dengan pertanyaan yang itu2 saja..Membosankan, padahal jawabannya sudah tau…Hanya Tuhanlah yang bisa menjawabnya. Sebab segala sesuatu itu ada waktunya, dan segala sesuatu itu indah pada waktunya…

JADI..STOP yah tanya tentang kapan akau menikah dll..

17 November, 2008 Ditulis oleh gitasyahni | Uncategorized | | No Comments Yet