Gitasyahni’s Weblog

Senandung hati mengungkap jejak langkah kaki hidupku…

Bila nanti kau kembali

Salah satu dari mimpiku
Kau berkata kau maafkan aku
Aku hanya punya satu cinta
Itupun tlah terbawa olehmu

Cepat kau pulang kepadaku
Agar aku bisa menjagamu
Cepat kau hadir di sampingku
Agar aku bisa memelukmu

Aku selalu menantimu
untuk pulang kepadaku

Bila nanti kau kembali
Jangan pernah tinggalkan aku
Disini sendiri
Tak usah kita berjanji
Untuk sehidup semati lagi
Jalani saja ini

24 Desember, 2008 Ditulis oleh gitasyahni | Uncategorized | | No Comments Yet

Salahkah

Aku bingung, aku sedih, aku marah

Semua terasa serba salah

Biarkan aku yang mengalah

Biarkan aku yang akan simpankan sedih

Sikapmu semakin berubah saat aku ada di sini

SALAHKAH BILA AKU MENCOBA DEKATI DIRIMU YANG KU INGINKAN ?

SALAHKAH BILA AKU MENCOBA UNGKAPKAN CINTAKU PADAMU?

Hanya kau yang selalu ku inginkan

Tak ada yang lain di hatiku

Katakanlah apa yang terjadi dalam hatimu

Jujurlah bicara apa yang kamu ingini…

Ku semakin tak mengerti dengan perubahan ini

23 Desember, 2008 Ditulis oleh gitasyahni | Uncategorized | | No Comments Yet

Pemuja Cinta

Cintaku tak dapat berlari dari dirinya

Cintaku tak dapat berpaling dari wajahnya

Hanya karena cinta ku lakukan semua

Hanya karena cinta………..

Cinta.. bantu aku luluhkan keras hatinya

Cinta.. bantu aku redamkan semua egonya

Hanya karena cinta ku lakukan semua

Hanya karena cinta …………….

Cinta… perhatikan akan sikapku

Cinta… ku jadikan satu untukmu

Cinta… kan ku jaga tulus cintamu

Cinta… hanya kau dan aku tuk jadi satu

22 Desember, 2008 Ditulis oleh gitasyahni | Uncategorized | | No Comments Yet

Menunggumu

Sekian lama aku menunggu
Untuk kedatanganmu
Bukankah engkau telah berjanji
Kita jumpa di sini
Datanglah, kedatanganmu kutunggu
Telah lama, telah lama ‘ku menunggu

Derita hidup yang kualami
Duhai pahit sekali
Pada siapa aku mengadu
Kalau bukan padamu
Datanglah, kedatanganmu kutunggu
Telah lama, telah lama ‘ku menunggu

Selain dirimu kasih
Tiada yang lain lagi
Tempat menyandarkan diri
Mencurahkan isi hati

Lama sekali aku menanti
Kedatanganmu kekasih
Betapa hati tidak ‘kan sedih
‘Pabila aku sendiri

20 Desember, 2008 Ditulis oleh gitasyahni | Uncategorized | | No Comments Yet

Ku berdoa untukmu

Hidup mesti terus berjalan, itu pasti! Namun jika duka selalu menyelimuti apakah jiwa ini akan bisa bertahan? Sedang kini hari demi hari jiwa ini semakin lemah, pikiran semakin kacau, dan hati makin merapuh. Air mata tak bisa lagi kuhentikan, karena hanya itu yang mampu melipur segalanya. Puas menangis meredakan sesaat beban di dada, tangisan dalam hati dan tercurah lewat air mata. Apakah diri ini yang terlalu cengeng ataukah kehidupan yang sudah terlalu kejam menerpaku. Bertahan sendiri dalam kelemahan, terpuruk sendiri dalam kegersangan jiwa, mengharap dalam kehampaan, menanti tanpa kepastian… Tuhan…belum cukupkah semua ini harus ku terima? Sampai kapan aku harus bergelut dalam lara ini?

Masih terkenang saat itu, perkenalan yang manis, yang aku tidak tau dari mana asalnya aku bisa berjumpa dengan seseorang yang tak pernah ku kenal sebelumnya. Karena kuasa tanganMu lah aku bisa bertemu dengannya, seseorang yang kini selalu ada dalam hatiku, seseorang yang bisa merubah air mata menjadi senyum dan tawa, merubah kesendirianku menjadi berwarna, memberiku semangat untuk menantinya, dan dia adalah orang yang mampu membuatku menunggu dan merinduinya, seseorang yang kadang membuat hariku bingung tanpa kabarnya. Tuhan… untuk siapakah dia sebenarnya, kenapa begitu sulit untuk aku bersamanya kembali, kenapa semakin menjauh dia dari diriku…?

Tuhan…Engkau yang berkehendak mempertemukan dia dari ujung tempat denganku di sini, dan Tuhan …tak pantaskah aku memohon untuk sentuh hatinya dan membawanya kembali kepada diri ini? Di kota JPR dia berada, dan di sini aku selalu menantinya, tak adakah kemudahan untuk membawanya bersama hatinya kepadaku yang selalu menanti? Jika ku ingin memberinya bahagia, tolong jauhkan kekeliruan dariku, jangan buatkan kesalahan untuk menjauhkan hatinya dariku, namun sentuhlah hatinya dengan tangan kasihMu…bawalah hati yang tulus sayang kepadaku. Tuhan…. Ku hanya ingin bersamanya, mengasihinya dan berbagi perasaan dengannya. Memberinya bahagia semampuku, menyayangi dengan segenap hatiku dan merawatnya dengan setulus hatiku.

Tuhan… pada siapa lagi diri ini bisa mengadu selain pada diriMu…dan aku sangat percaya kasihMu, rahmatMu dan berkahMu… dan padaMu aku terus memohon, memberikan yang terbaik baginya, menjaganya, dan memberi rizqi padanya. Tak henti ku memohon padamu, agar hati ini tegar dengan semua keadaan ini, berharap makin Engkau dekatkan hatinya padaku, mengingatkan aku dalam harinya, Tuhan… aku tak memaksakan kehendakMu…kuhanya mampu memohon dan berusaha… dan diri ini semogalah kuat akan segala ujianMu…

Engkau yang maha tau…betapa diri ini bersimpuh bersujud padamu memohon kebaikan untuknya, agar dia selalu dalam keadaan sehat dan selamat dalam bekerja, memohon kelemahan hatinya untuk memberiku kasih sayang yang aku harapkan, mengharap sentuhan halus tanganMu dalam hatinya untuk mengingatku di sini. Dan Engkau Maha Mengetahui setiap tangisku karena merindukannya.

Tuhan…bila Engkau berkenan…bawalah dia kepadaku dengan ke ikhlasan hatinya, dengan rindu yang setulusnya, dengan kasih sayang yang besar kepadaku seperti kata – kata yang selalu dia ucapkan kepadaku…. Tuhan…. Ku tak ingin dia semakin jauh, karena hati ini semakin rapuh tanpanya, ku tak ingin lemah dan terpuruk seperti dahulu….berikanlah aku kesempatan ya Tuhan untuk menggapai harapan dan bahagiaku, dengan segenap kerendahan hati kumohonkan kepadaMu…ijinkanlah aku bahagia bersamanya, dan bila tidak mungkin maka ku hanya bisa memohon… kuatkan hatiku dari segala sakit dan duka, agar aku tetap di jalanMu…Tuhan…terimakasih atas hidupku ini..dan berikanlah sekali lagi kebahagiaan yang menjadi sunah RasulMu..amin….amin ya robbal allamin…

20 Desember, 2008 Ditulis oleh gitasyahni | Uncategorized | | No Comments Yet

Keinginan sederhana

Di sisa hidupku ini sebenarnya tak banyak yang ku ingini, namun tak sesederhana keinginan pada kenyataannya. Aku ingin menikah dan mengurus suami sebaik-baiknya, mempunyai anak dan merawatnya sebaik – baiknya. Karier? Semua bisa teratasi dan terbagi karena ku telah siap menata hidupku yang baru…

Tetapi…lantas dengan siapa aku menikah, apalagi untuk punya anak? Pertanyaan yang tak pernah ada jawabnya, karena menuju pintu pernikahan banyak sekali proses panjangnya dan berbelit yang mesti kujalani. Saat ini ingin disayang saja sulit sekali, meski aku sungguh2 tulus menyayangi. Tidak  semua rasa yang aku berikan akan sama seperti rasa yang aku terima. Tiap saat aku mencoba bersikap sabar tanpa membuat kesalahan sedikitpun, tapi nyatanya semua ini tak pernah berarti apa – apa, begitu mudah hati ini terkoyak dengan sikap balasan, seolah diri ini tiada harganya. Jika proses menjalin hubungan saja begini, apakah mungkin sebuah hati mau mengajakku menikah? Menikah itu kan semestinya persatuan dua hati yang saling menyayangi, saling membutuhkan dan saling punya tujuan yang sama dalam berumah tangga, sedang sepertinya saat ini keinginan itu belumlah sama.

Kadang aku berpikir, kalau memang jodoh, Tuhan tidak pernah membuat kekeliruan untukku, karena yang terbaik hanyalah dari padaNya. Aku selalu berusaha mendapatkan yang terbaik dariNya, dengan selalu berusaha mengalah, bersabar dan memaafkan… aku sangat menyayangimu setulus hatiku, begitu besar dan begitu kuat, dan tak ingin aku engkau tinggalkan, namun itu hanyalah harapanku, karena aku tak pernah tau dalamnya hatimu. Dan setiap sikap maupun kataku seakan tak berkenan di hatimu, aku selalu salah di hadapanmu, tak ada sedikitpun kebahagiaan kamu dapat dariku, mungkin itu yang selama ini kamu rasa.

Tapi… di kala lain…aku sangat-sangat percaya engkau begitu sayang padaku, begitu cinta padaku, dan aku juga sangat – sangat menyayangimu, tapi dikala lain… begitu mudah engkau menyakitiku dengan sikapmu. Malam tadi kamu memintaku menelepon setelah mandi, dan dengan segenap bahagia di hati aku segera pulang dan mandi, selesai mandi aku segera menelponmu, namun dengan mudah kamu menolaknya, mematikannya dan mengabaikan sms – smsku, sementara aku tidak tau apa salahku ?

Rinduku begitu dalam, mengharapmu memberi kabar setiap saat, dan di saat aku mulai mengerti kesibukanmu, memahami keadaanmu, tak engkau hiraukan perasaanku ini. Terasa sangat terlukanya hatiku, menangis sepanjang malam meratapi perihnya hidupku, bertanya apa salahku, namun tak sepatah katapun terjawab.

Di sini aku selalu memikirkanmu, menantimu, merindukanmu dan mengkhawatirkan kesehaanmu, semua perasaan itu tulus dan tak pernah ku buat-buat, tetapi ternyata bukan ini yang berkenan di hatimu. Ataukah aku yang begitu bodoh hingga detik ini tak pernah tau apa yang bisa membuatmu bahagia? Andaikan saja kamu mau jujur apa yang kamu ingini dari hubungan kita, dengan ikhlas hati kurelakan semuanya, meski hati ini harus terluka asal kamu bahagia aku relakan.

Jujur ku akui, kamu yang sangat aku sayangi, dan ku ingin kamu yang terakhir dalam hidupku, aku tak ingin terluka lagi karena kehilanganmu, tapi bukan berarti aku mengikatmu, itu hanya harapanku, dan doaku sepanjang hariku. Bila doa – doaku bukanlah keinginanmu, aku pasrahkan segalanya pada Tuhan, karena semua ini adalah kehendakNya..

Saat itu kudengar dengan jelas, bahwa kita akan membicarakan pernikahan, anak dan masa depan kita, dan aku sangat bahagia sekali saat itu, hingga tak ragu aku melakukan terapi untuk segera bisa punya anak, membereskan pekerjaan agar tak terbengkalai saat aku cuti nanti, mempersiapkan sesuatu yang menyenangkan karena aku akan menyambutmu datang, melepas kerinduan yang selama ini terpendam..

Dan malam tadi…apakah maksudmu…mengabaikan teleponku, sms ku, hingga aku tulis blog ini. Apakah yang terjadi setelah kita telepon sebelumnya, adakah salahku padamu yang tak termaafkan? Apa ada kataku yang melukai hatimu? Ataukah kamu tak berkenan lagi bicara padaku? Tak rindukah dirimu padaku selama ini? Tak adakah inginmu berbicara padaku, seperti inginku mendengar suaramu selama ini?

Sayang… kuberikan hati ini seutuhnya kepadamu, dan tak berharap apapun selain kasih sayangmu, meski kamu lukai, kamu sakiti aku biarkan teriris luka asal kamu bahagia… mulai hari ini, kuberikan hatiku untuk menerima apapun yang kamu berikan… luka dan pedih akan menjadi penguat rasa sayangku padamu, airmata menjadi pelipur rinduku padamu… dan bila akhirnya aku mesti kamu tinggalkan , biarlah aku sendiri dalam hidupku, mengenangmu sebagai yang terindah, demi kebahagiaanmu. Meski dalam hati tak rela kamu tinggalkan karena aku sungguh- sungguh menyayangimu. Aku tau ini paling pahit yang harus ku alami kembali, namun ini karena aku sangat sayang padamu, menantimu adalah sesuatu yang kujaga selalu, mencintaimu adalah hal yang selalu akan ku lakukan. Mengertilah perasaanku, hatiku dan cintaku, karena hatiku rapuh dan hanya bisa menangis menerima semuanya.. tapi sekali lagi… aku menyayangimu, ku ingin  mendengar suaramu, tawamu dan cerita – ceritamu… hanya itu yang ku ingini saat ini. Mungkin sederhana, tapi itu sangat mendalam bagiku, hanya abang yang kunanti, kusayang dan kuharapkan. Ini benar adanya dan tulus aku katakan…

17 Desember, 2008 Ditulis oleh gitasyahni | Uncategorized | | No Comments Yet

Potret itu

Menunggu…

Mungkin banyak orang bilang menunggu itu pekerjaan yang sangat membosankan dan menyebalkan. Namun lain bagiku, menunggu sudah menjadi suatu kewajiban yang harus aku jalankan. Meski terkadang menunggu sangat menyakitkan dan menghasilkan kesedihan, tetapi semua itu tetap saja mesti ku hadapi dengan sabar.

Menunggu dengan diam dan tak boleh banyak bertanya , tak boleh berharap akan jawaban, dan tak boleh meminta karena semua itu akan menjadi lain artinya di pihak lain. Banyak bertanya nanti aku dikira mencurigai, banyak meminta nanti aku dikira menuntut, meski sebenarnya bukan itu maksudku, aku hanya ingin tau kabar baik dan buruknya, agar aku merasa difikirkan, disayangi dan dirindui. Aku tak menyalahkan jika dilain pihak merasa seperti itu, karena mungkin aku dikira seperti itu, aku maklum, karena jarak bisa merubah arti dan maksud.

Tetapi, pepatah ” Diam adalah emas ” harus selalu aku pegang , agar semua tetap terjaga, tetap baik – baik saja dan agar semua tak pergi meninggalkan aku dengan mudah karena marah padaku, aku tak ingin ditinggalkan untuk kesekian kali dalam hidupku. Kini aku lebih memilih menghabiskan air mata sendiri, menghibur hati sendiri, memandang potret wajah yang selalu aku rindukan selama ini. Aku hanya tersenyum di hadapan potret itu, menangis memandang potret itu, mengusap wajah dalam potret itu dan selalu mengucap sayang dan kangen pada potret itu, aku tau potret hanyalah gambaran, karena hanya itu yang paling dekat denganku. Setiap detik, setiap menit, setiap jam dan setiap hari kulakukan itu semua pada potret itu, dan sesekali kuperiksa handphone mungkin ada kabar terbarunya, meski kadang harus terpaku karena tak kudapati yang ku harap itu.

Pesan demi pesan ku kirim , karena aku tak berani mengganggunya dengan teleponku, atau lebih pada menjaga hatiku agar tidak terlalu sedih bila tak diangkatnya. Terkadang semangatku begitu tinggi, namun lain waktu aku serasa terhempas dari ketinggian dan jatuh dalam keterpurukkan.

Di lain waktu saat ku berhias diri, kuselalu tersenyum pada potret itu, kuingin berikan yang terbaik meski hanya lewat potretnya. Aku sadar potret itu begitu banyak melihat senyum, tawa dan juga tangisku, aduan hatiku dan juga diam dalam termenungku. Potret itu saksi segalanya segala isi hatiku. Potret itu…yang kuambil saat pertemuan kedua di sebuah hotel di Tarakan, ganbaran wajah orang yang paling aku sayang, aku rindukan dan selalu aku nanti hingga kini.

Potret itu… teman dalam hari – hariku, karena wujud asli dari potret itu begitu jauh untuk aku jangkau, sangat sulit untuk aku dengar suaranya setiap saat, sangat sulit aku peluk, sangat sulit untuk aku menyentuh wajahnya, merasakan detak jantungnya. Saat ini dan entah sampai kapan pemisahnya adalah jarak. Aku tak pernah berani memintanya harus datang, meski hati ini selalu berharap, aku hanya mampu menunggu sampai seseorang itu datang memenuhi janjinya datang padaku, dan mudah – mudahan ada saatnya nanti Tuhan berikan aku kesempatan bertemu dengannya. Mudah – mudahan harapan kali ini terkabulkan, tetapi bila tidak, aku akan tetap menunggunya dengan sabar entah sampai kapan, merajut semua kata rindu dalam hatiku menantinya. Dan  mudah – mudahan seseorang itu masih selalu ingin bertemu denganku kapanpun itu, juga mudah – mudahan semua yang aku dan dia ingini, semua yang aku dan dia harapkan menjadi nyata adanya. Kini, kuhanya bisa miliki, pandangi potret gambaran dirinya, seseorang yang sangat aku sayangi, aku rindukan dan aku nanti….

15 Desember, 2008 Ditulis oleh gitasyahni | Uncategorized | | No Comments Yet