Apakah itu SAHABAT ??
Sahabat…?? Masihkah pantas aku menyebutmu sahabat? Tidak..aku tidak mendendam, namun sakit masih tersisa dikala kau muncul kembali hanya ingin meminta pertolongan.. Berkecamuk kencang degup dada ini menimbangkan langkahku, menolong atau tidak ? Aku bisa saja menolongmu namun tiba – tiba bisikan suara yang sakit melarangku.. Oh Tuhan..aku tak boleh mendendam..namun sisi lain berkata, katakan tidak bisa untuknya…
Di antara bingung itu pikiranku melayang ke masa 5 tahun yang lalu dimana aku mengalami saat – saat yang begitu pahit, saat yang menyakitkan dan saat aku hanya bisa mengharap belas kasihan dari siapapun. Namun saat itu pula dirimu semakin menjauh malah terkesan tak mau aku ada bersamamu, mungkin kamu takut aku membebanimu, oh sungguh sakit kurasa saat itu. Dengan segala alasan kau berusaha menghindar saat aku ingin bertandang ketempatmu, padahal bukan makan atau uang yang aku inginkan, aku hanya ingin kawan tempat aku menceritakan segala kepenatanku, aku ingin bisa teratawa dalam kebersamaan menghalau segala pedih yang bersarang di jiwaku. Sekian lama aku terlunta sendiri, tak seperti saat aku masih kuat, kau selalu bersamaku kapanpun aku mau. Bantuan demi bantuan kamu mohonkan, dan bukan hanya kamu tetapi semua kawan – kawan yang pernah bersamaku.
Masih ku ingat jelas saat kamu baru datang dari kampung dan bekerja di tempat yang sama dengan ku, tak segan aku berikan pakaian – pakaian dan apapun yang kupunya, kita hidup bersama seperti layaknya saudara..indah sekali. Namun dari awal aku sudah tau, bahwasanya ternyata dirimu suka berpilih teman. Lama kelamaan kau mulai memisahkan diri dan bergaul sendiri – sendiri, saat itu aku tak begitu peduli, hingga akhirnya kita berdekatan kembali. Saat itu dirimu mulai kuliah dan aku memberikan support, bukan hanya sekedar support bicara, biaya pun aku berusaha pinjami.
Hingga saat itu terjadi padaku, saat yang benar-benar menghancurkanku, disaat aku berada pada pilihan yang sulit dirimu mulai kembali menjauhiku, dirimu begitu sibuk dengan urusan pribadimu, dan seakan sulit aku temui. Saat itu aku benar-benar butuh penyemangat, butuh pemikiran mana yang harus kupilih. Tak kusangka kau malah berbalik berkawan dengan orang yang menghancurkanku. Dengan segala keputus asaan aku ambil sendiri keputusan besar itu, keluar dari perusahaan dan membawa “dia” hancur bersama… saat itu hanya sakit dan dendam yang menguasai..
Bersamaan dengan itu… dirimu benar – benar menghilang dari hari – hariku, dan aku bertekad akan melupakan semua orang yang ku kenal di perusahaan itu. Jatuh bangun aku lalui perjalanan hidupku, berjuta tangis dan menjadi senandungku, berjuta perih dan menjadi selimutku… itulah hidupku saat itu.
Dan kini… saat kamu tau aku ada dimana, setelah sekian tahun tak bersapa, tiba – tiba kamu muncul menyapaku lewat teleponmu.. entah aku tak tau dari mana kamu mendapat nomor flexi ku..
Sesaat ada rasa senang bersua kawan lama, namun sakit kembali muncul saat kamu mengutarakan tujuanmu, kamu memohon untuk meminta pertolongan uang dengan jumlah yang sangat besar bagiku. Kamu memohon mohon demi menyelamatkan uang 35 jt mu agar tidak hilang sia – sia. Oh.. segera ada bisikan dalam hati… teganya dirimu mencariku hanya karena menginginkan pertolongan?
Entah kenapa hilang seketika rasa senangku berjumpa denganmu meski hanya lewat telepon… aku memang tak punya uang sebanyak yang kamu minta, namun aku bisa saja membantumu dengan pinjam pada bosku.. tapi.. haruskah aku mesti sampai seperti itu demi dirimu? Dimana rasa hatimu dulu saat aku benar – benar terpuruk antara hidup dan mati? Dimana hatimu saat aku harus merelakan diri menjadi seorang perawat anak demi sesuap nasi dan membiayai adikku sekolah? Dimana perasaanmu saat kuliahku hampir putus saat kau menjauhiku dan aku tak punya biaya?
Tanpa memberikan janji aku hanya bilang padamu aku akan berusaha membantumu, terdengar sekali nada ceria di seberang sana, suara ceriamu karena berharap uangmu tak akan hilang… uh.. pernahkah kamu memberiku ceria saat itu…
Seharian aku berpikir bolak – balik membantu-tidak, tidak-membantu.. ? tapi rasa kasihan ini kembali datang.. inilah jiwaku , tak tega orang sengsara tanpa aku bisa berbuat apa – apa.
Seharian aku cari teman-teman yang kurasa bisa membantu, namun entah kenapa ada saja alasan mereka, mungkin mereka takut dengan jumlah sebesar itu… dan kebetulan juga bos ku sedang keluar kota..
Akhirnya aku sampaikan bahwa aku tidak bisa menolongnya, aku tau ada kekecewaan disana… namun aku juga kembali kecewa, karena hingga saat ini kamu tak pernah muncul mesi hanya sekedar SMS.. Kembali hatiku bicara, Git… itulah kawan, datang dan pergi sesukanya… sahabat hanya ada di hatimu, namun tidak di hatinya…
Baiklah..ini pelajaran berharga bagiku… biarlah tak ada sahabat, cukup kawan dan tak akan aku mencari ataupun menjauhi kawan, biarlah mereka berada disekitarku semaunya, datang aku berikan senyuman, pergi aku berikan salam… itu lebih baik rasanya… sekali lagi aku tak mendendam, hanya luka lama kembali hadir.. sejujurnya hatiku tak pernah tega..namun kenapa dia begitu tega padaku saat itu.. ah tapi sudahlah…sudahlah biarkan semua pergi berlalu.. sejatinya aku hanya tak bisa setega itu, keadaan yang membuatku tak mampu..
Jadi apakah yang semestinya ku anggapkan bagimu ? Kawan atau sahabat? Rasanya lebih indah just kawan…
Lagu yang pas buatku…
Agnes Monica – Teruskanlah
Pernahkah kau bicara
Tapi tak di dengar
Tak di anggap
Sama sekali
Pernahkan kau tak salah
Tapi disalahkan
Tak di beri Kesempatan
Reff :
Kuhidup dengan siapa
Ku tak tau kau siapa
Kau kekasihku tapi
Orang lain bagiku
Kau dengan dirimu saja
Kau dengan duniamu saja
Teruskan lah.. Teruskan lah
Kau begitu
Kau tak butuh diriku
Aku patung bagimu
Cinta bukan
Kebutuhan mu
Back to reff.
Hoo.. Hooo
Kau dengan dirimu saja
Kau dengan duniamu saja
Teruskan lah.. Teruskan lah
Kau.. kau begitu
Teruskan lah… teruskan lah..
Tarakan dan kenanganku..
Aku datang ke kota Tarakan ini pada 05 Oktober 2005, aku datang dengan segudang luka dan tak pernah terbayangkan dengan kota yang bernamakan Tarakan ini. Entahlah, saat itu pikiran kosong karena hati diliputi segudang beban. Saat tiba malam itu, ada tangis yang masih aku sembunyikan, ada perasaan menyesal dan sedih meninggalkan semua di pulau jawa, namun tekad kuatku menyembuhkan luka semakin mendalam sehingga kekuatan baru pun muncul. Tarakan… inilah hidupku sekarang di tanah ini… begitulah terucap dalam hatiku.
Tiga bulan pertama aku betul2 belum mengenal seluk beluk Tarakan sama sekali, karena waktuku habis terkungkung dalam segudang pekerjaan dan ruang dalam batas kamarku. Aku hampir tak pernah tau matahari di Tarakan maupun rembulan di Tarakan karena tugas yang seabrek mesti di selesaikan. Disinilah perjuanganku dimulai..
Hampir selama 3 bulan sejuta pergolakan di dada terus berkecamuk, kutekan habis semua luka, siang malam bekerja tanpa kenal lelah dan akhirnya aku bisa. Tekadku kumulai kembali, bahwa aku tak boleh larut dalam kedukaan.. Kota ini tempatku menyembuhkan luka dan terimakasih buatmu Tarakan…
Sisi positif aku dapatkan, aku mulai mendapat hasil jerih payahku dan kurelakan aku tak menikmati jerih payahku, semua kuberikan pada orang tua dan untuk sekolah adikku, alhamdulillah ya allah, aku bisa memberi mereka tempat berteduh, menyekolahkan adikku hingga lulus STM.. inilah yang selalu kusyukuri, sakitku membawa bahagia mereka…
Hingga saat ini perjuanganku seakan belum tuntas, rasa iri dengki mereka atas prestasiku semakin meninggi, segala cara selalu mereka lakukan untuk membuatku meninggalkanmu Tarakan.. sedih memang karena aku menjalani semua ini sendiri, tanpa kawan dan tanpa seorangpun yang bisa membantuku. Di sini aku tak pernah tau mana kawan dan mana lawan, aku jalani semua dengan caraku agar mampu bertahan menghadapi semua ini. Lelah? aku memang sangat lelah, namun kemana aku harus mengadu? Hanya air mata yang mampu aku curahkan di malam hari, siang aku bagaikan batu karang yang kokoh, namun tatkala senja datang aku hanyalah batang yang rapuh…
Tarakan..disini aku sering menangis, disini aku sering sakit. Kenapa kau beri aku air mata sementara aku mau menghilangkan air mata di tanah ini? Aku benar – benar sudah sendiri, aku tak tau mana kawan mana lawan, namun tak henti semua masalah terus menghampiri…
Tarakan…di tanahmu ini, tertanam benih cintaku yang gugur tak mampu menemaniku, buah cintaku yang tak bisa lagi bertahan hidup, buah cintaku dari seorang yang sangat aku cintai, namun mungkin tak lagi mampu setia dan mencintaiku, meski aku terus merindui namun sepertinya bukan miliku lagi… dia telah lupa akan benih cintaku dan diriku…
Linangan – demi linangan air mataku hanyalah aku yang tau, perih demi perih aku lewati sendiri, akankah semua ini hanya tinggal kenangan…
Tarakan…
Arti kata tempat persinggahan, berkumpul dan makan bersama…
arti yang indah…. tapi mungkin hanyalah persinggahan saja yang aku rasa…
Tarakan… bila sakit ini , sepi ini dan perjuangan ini tak mampu lagi aku teruskan, aku akan meninggalkanmu, mencari tempat baru yang nyaman untuk hidupku…
Tarakan… di kotamu terlantun lagu sedihku, semoga suata saat nanti bila aku tinggalkan tempat ini, masih ada waktuku mengunjungimu lagi, mengenang semua kenangan pahit, indah dan segalanya…
Tarakan… banyak kenangan pahit manis di kota ini… semua hanya tinggal kenangan sebelum ku mengucap selamat tinggal semua….
Inikah saat pedihku…
Aku merasakan bahwa yang aku lakukan selama ini hanyalah sia – sia belaka. Tak satupun yang membuahkan hasil… yang aku dapat hanya kepedihan semata. Kepedihan yang tak pernah kuharapkan, semua yang telah kumiliki harus perdi dariku..
Tidak mudah menjadi diri sendiri apalagi menjadi orang lain, namun sesulit apapun rintangan yang terbentang di hadapanku , semua harus kuhadapi. Aku tak bisa mengingkari karena inilah jalanku.
Tetapi apa yang bisa aku lakukan jika sesuatu yang telah menghiasi hari – hariku harus pergi dan aku tak pernah tau kapan akan kembali. Mungkin kembali, mungkin juga tidak.. walaupun aku kata – kata “kembali” tak akan pernah ada untukku. Yang ada hanyalah kata “tidak” dan segudang perasaan pedih. Aku hanya bisa berharap, dan hanya benar – benar berharap, bahwa itu akan kembali. Entah hari ini, esok atau di kehidupan yang lain..
Apapun yang aku lakukan, setidaknya aku tau semua itu memiliki resiko, entah negatif entah positif. Karena tak ada satupun di dunia ini yang tidak mempunyai resiko, seharusnya aku tau itu. Namun langkahku telah membawaku tercebur dalam kubangan penuh duka yang aku sendiripun tak tau bisa keluar atau tidak.
Saat ini.. kehampaan, kesepian, kepedihan dan berbagai rasa lainnya yang entah aku tidak tau apa namanya telah membuat hidupku benar – benar semakin tak berarti. Aku tidak bisa lagi memiliki apa yang pernah kumiliki. Kebahagiaannya telah terbagi..namun bukan untukku.. telah ada kehidupan yang indah yang hanya mampu kulihat sementara hanya mampu kusimpankan derita dalam hatiku…
Dan ketika kusadari semuany, aku sudah terlambat untuk menyesalinya… Waktu tak akan pernah bisa kembali ke saat dimana aku belum memulainya. Sekarang…tak ada lagi yang tersisa untukku.
Atau…
Mungkin di lain ruang dan waktu, Tuhan masih memberiku kesempatan untuk aku bahagia dan mengembalikan semua milikku.. tetapi kenapa pemandangan itu membuat gores perih di hatiku…
Senyum dan aura kebahagiaan memancar namun tidak bersamaku… diri ini hanyalah persinggahan tempat datang dan pergi… akankah kata yang ku takutkan akan kudengar sesaat lagi, ataukah suara itu akan menghilang pergi dan tak akan ku dengar lagi… sedih itu hanya sementara singgah di sana, namun perih terus menyayat kalbuku… apakah telah tiba saatnya kumelepas demi kata ” bahagia ” nya? Jiwa ku tidaklah se agung dewi – dewi suci..karena jiwa ini hanyalah manusia biasa…dekat dengan luka, kecewa dan perih… karena manusia punya air mata untuk membasuh dan mengiringi nyanyian duka di kalbu….
Keterpurukan…
Hari ini ingin kupantulkan teriakanku di bebatuan terjal, agar semua alam tahu betapa penuh sesak derita batin ini aku simpankan. Biarkan teriakan ini menyusur gelap ruang gua yang sunyi, tanpa ada yang diserap atau hilang menguap. Kan kudengar suara pantulan itu lebih keras dari suaraku sendiri…serasa diri ini terkapar kaku tak berdaya dan sungguh tak punya daya…
Kalau hanya sekedar menikmati keterpurukkanku sendiri saja aku tak mampu, lantas apakah aku ini, siapakah diri ini ?? Dimana mesti mengubur jasad kotor tak berpekerti ini?
Duhai malam.. rengkuhlah sukmaku, dan taruhlah dalam alam sepimu, aku tak punya lagi keberanian menemui hari cerah ini, dimana semua orang bisa melihat malu wajah bodoh ini karena begitu bodoh kebodohanku ini…
Lindungi aku dalam wibawa kehitamanmu, beri aku sedikit arti tentang cara menikmati kehancuran ini, atau sekedar berhenti dari penyiksaan nurani akibat sebuah penyesalan.
Raihlah jiwa yang terbang tanpa arah, tanpa berbekal sayap, dengan arah tak tertuju bagai langit gelap tak bertepi. Aku tenggelam dalam keraguan yang tak pasti, berharap pada waktu untuk rela berhenti agar aku yang terlena tak membuat mereka terluka.
Kapankah aku bisa bangkit, bagaimana harus bertegak diri dan untuk apakah menapak langkah kaki, masih adakah satu alasan untuk aku tetap bertahan dan berusaha kibaskan reruntuhan beban di badan?
Kini rintangan menjadi pijakanku, halangan merupakan tumpuanku, dan kegagalan adalah anak tanggaku… sedalam apapun sebuah lubang keputusasaan, ada permukaan harapan di sisi yang berlainan, tapi aku telah terkubur, untuk menikmati keterpurukkanku saja aku sudah tak mampu lagi….
-
Arsip
- Oktober 2009 (1)
- Juni 2009 (5)
- Mei 2009 (1)
- Maret 2009 (4)
- Januari 2009 (4)
- Desember 2008 (7)
- November 2008 (2)
- Oktober 2008 (1)
- September 2008 (4)
- Agustus 2008 (4)
- Juni 2008 (4)
- Mei 2008 (6)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS
