Gitasyahni’s Weblog

Senandung hati mengungkap jejak langkah kaki hidupku…

Inikah saat pedihku…

Aku merasakan bahwa yang aku lakukan selama ini hanyalah sia – sia belaka. Tak satupun yang membuahkan hasil… yang aku dapat hanya kepedihan semata. Kepedihan yang tak pernah kuharapkan, semua yang telah kumiliki harus perdi dariku..

Tidak mudah menjadi diri sendiri apalagi menjadi orang lain, namun sesulit apapun rintangan yang terbentang di hadapanku , semua harus kuhadapi. Aku tak bisa mengingkari karena inilah jalanku.

Tetapi apa yang bisa aku lakukan jika sesuatu yang telah menghiasi hari – hariku harus pergi dan aku tak pernah tau kapan akan kembali. Mungkin kembali, mungkin juga tidak.. walaupun aku kata – kata “kembali” tak akan pernah ada untukku. Yang ada hanyalah kata “tidak” dan segudang perasaan pedih. Aku hanya bisa berharap, dan hanya benar – benar berharap, bahwa itu akan kembali. Entah hari ini, esok atau di kehidupan yang lain..

Apapun yang aku lakukan, setidaknya aku tau semua itu memiliki resiko, entah negatif entah positif. Karena tak ada satupun di dunia ini yang tidak mempunyai resiko, seharusnya aku tau itu. Namun langkahku telah membawaku tercebur dalam kubangan penuh duka yang aku sendiripun tak tau bisa keluar atau tidak.

Saat ini.. kehampaan, kesepian, kepedihan dan berbagai rasa lainnya yang entah aku tidak tau apa namanya telah membuat hidupku benar – benar semakin tak berarti. Aku tidak bisa lagi memiliki apa yang pernah kumiliki. Kebahagiaannya telah terbagi..namun bukan untukku.. telah ada kehidupan yang indah yang hanya mampu kulihat sementara hanya mampu kusimpankan derita dalam hatiku…

Dan ketika kusadari semuany, aku sudah terlambat untuk menyesalinya… Waktu tak akan pernah bisa kembali ke saat dimana aku belum memulainya. Sekarang…tak ada lagi yang tersisa untukku.

Atau…

Mungkin di lain ruang dan waktu, Tuhan masih memberiku kesempatan untuk aku bahagia dan mengembalikan semua milikku.. tetapi kenapa pemandangan itu membuat gores perih di hatiku…

Senyum dan aura kebahagiaan memancar namun tidak bersamaku… diri ini hanyalah persinggahan tempat datang dan pergi… akankah kata yang ku takutkan akan kudengar sesaat lagi, ataukah suara itu akan menghilang pergi dan tak akan ku dengar lagi… sedih itu hanya sementara singgah di sana, namun perih terus menyayat kalbuku… apakah telah tiba saatnya kumelepas demi kata ” bahagia ” nya? Jiwa ku tidaklah se agung dewi – dewi suci..karena jiwa ini hanyalah manusia biasa…dekat dengan luka, kecewa dan perih… karena manusia punya air mata untuk membasuh dan mengiringi nyanyian duka di kalbu….

6 Juni, 2009 Ditulis oleh gitasyahni | Uncategorized | | No Comments Yet

Keterpurukan…

Hari ini ingin kupantulkan teriakanku di bebatuan terjal, agar semua alam tahu betapa penuh sesak derita batin ini aku simpankan. Biarkan teriakan ini menyusur gelap ruang gua yang sunyi, tanpa ada yang diserap atau hilang menguap. Kan kudengar suara pantulan itu lebih keras dari suaraku sendiri…serasa diri ini terkapar kaku tak berdaya dan sungguh tak punya daya…

Kalau hanya sekedar menikmati keterpurukkanku sendiri saja aku tak mampu, lantas apakah aku ini, siapakah diri ini ?? Dimana mesti mengubur jasad kotor tak berpekerti ini?

Duhai malam.. rengkuhlah sukmaku, dan taruhlah dalam alam sepimu, aku tak punya lagi keberanian menemui hari cerah ini, dimana semua orang bisa melihat malu wajah bodoh ini karena begitu bodoh kebodohanku ini…

Lindungi aku dalam wibawa kehitamanmu, beri aku sedikit arti tentang cara menikmati kehancuran ini, atau sekedar berhenti dari penyiksaan nurani akibat sebuah penyesalan.

Raihlah jiwa yang terbang tanpa arah, tanpa berbekal sayap, dengan arah tak tertuju bagai langit gelap tak bertepi. Aku tenggelam dalam keraguan yang tak pasti, berharap pada waktu untuk rela berhenti agar aku yang terlena tak membuat mereka terluka.

Kapankah aku bisa bangkit, bagaimana harus bertegak diri dan untuk apakah menapak langkah kaki, masih adakah satu alasan untuk aku tetap bertahan dan berusaha kibaskan reruntuhan beban di badan?

Kini rintangan menjadi pijakanku, halangan merupakan tumpuanku, dan kegagalan adalah anak tanggaku… sedalam apapun sebuah lubang keputusasaan, ada permukaan harapan di sisi yang berlainan, tapi aku telah terkubur, untuk menikmati keterpurukkanku saja aku sudah tak mampu lagi….

6 Juni, 2009 Ditulis oleh gitasyahni | Uncategorized | | No Comments Yet