Gitasyahni’s Weblog

Senandung hati mengungkap jejak langkah kaki hidupku…

Keterpurukan…

Hari ini ingin kupantulkan teriakanku di bebatuan terjal, agar semua alam tahu betapa penuh sesak derita batin ini aku simpankan. Biarkan teriakan ini menyusur gelap ruang gua yang sunyi, tanpa ada yang diserap atau hilang menguap. Kan kudengar suara pantulan itu lebih keras dari suaraku sendiri…serasa diri ini terkapar kaku tak berdaya dan sungguh tak punya daya…

Kalau hanya sekedar menikmati keterpurukkanku sendiri saja aku tak mampu, lantas apakah aku ini, siapakah diri ini ?? Dimana mesti mengubur jasad kotor tak berpekerti ini?

Duhai malam.. rengkuhlah sukmaku, dan taruhlah dalam alam sepimu, aku tak punya lagi keberanian menemui hari cerah ini, dimana semua orang bisa melihat malu wajah bodoh ini karena begitu bodoh kebodohanku ini…

Lindungi aku dalam wibawa kehitamanmu, beri aku sedikit arti tentang cara menikmati kehancuran ini, atau sekedar berhenti dari penyiksaan nurani akibat sebuah penyesalan.

Raihlah jiwa yang terbang tanpa arah, tanpa berbekal sayap, dengan arah tak tertuju bagai langit gelap tak bertepi. Aku tenggelam dalam keraguan yang tak pasti, berharap pada waktu untuk rela berhenti agar aku yang terlena tak membuat mereka terluka.

Kapankah aku bisa bangkit, bagaimana harus bertegak diri dan untuk apakah menapak langkah kaki, masih adakah satu alasan untuk aku tetap bertahan dan berusaha kibaskan reruntuhan beban di badan?

Kini rintangan menjadi pijakanku, halangan merupakan tumpuanku, dan kegagalan adalah anak tanggaku… sedalam apapun sebuah lubang keputusasaan, ada permukaan harapan di sisi yang berlainan, tapi aku telah terkubur, untuk menikmati keterpurukkanku saja aku sudah tak mampu lagi….

6 Juni, 2009 - Ditulis oleh gitasyahni | Uncategorized | | No Comments Yet

Belum ada komentar.

Tinggalkan komentar