Gitasyahni’s Weblog

Senandung hati mengungkap jejak langkah kaki hidupku…

Tarakan dan kenanganku..

Aku datang ke kota Tarakan ini pada 05 Oktober 2005, aku datang dengan segudang luka dan tak pernah terbayangkan dengan kota yang bernamakan Tarakan ini. Entahlah, saat itu pikiran kosong karena hati diliputi segudang beban. Saat tiba malam itu, ada tangis yang masih aku sembunyikan, ada perasaan menyesal dan sedih meninggalkan semua di pulau jawa, namun tekad kuatku menyembuhkan luka semakin mendalam sehingga kekuatan baru pun muncul. Tarakan… inilah hidupku sekarang di tanah ini… begitulah terucap dalam hatiku.

Tiga bulan pertama aku betul2 belum mengenal seluk beluk Tarakan sama sekali, karena waktuku habis terkungkung dalam segudang pekerjaan dan ruang dalam batas kamarku. Aku hampir tak pernah tau matahari di Tarakan maupun rembulan di Tarakan karena tugas yang seabrek mesti di selesaikan. Disinilah perjuanganku dimulai..

Hampir selama 3 bulan sejuta pergolakan di dada terus berkecamuk, kutekan habis semua luka, siang malam bekerja tanpa kenal lelah dan akhirnya aku bisa. Tekadku kumulai kembali, bahwa aku tak boleh larut dalam kedukaan.. Kota ini tempatku menyembuhkan luka dan terimakasih buatmu Tarakan…

Sisi positif aku dapatkan, aku mulai mendapat hasil jerih payahku dan kurelakan aku tak menikmati jerih payahku, semua kuberikan pada orang tua dan untuk sekolah adikku, alhamdulillah ya allah, aku bisa memberi mereka tempat berteduh, menyekolahkan adikku hingga lulus STM.. inilah yang selalu kusyukuri, sakitku membawa bahagia mereka…

Hingga saat ini perjuanganku seakan belum tuntas, rasa iri dengki mereka atas prestasiku semakin meninggi, segala cara selalu mereka lakukan untuk membuatku meninggalkanmu Tarakan.. sedih memang karena aku menjalani semua ini sendiri, tanpa kawan dan tanpa seorangpun yang bisa membantuku. Di sini aku tak pernah tau mana kawan dan mana lawan, aku jalani semua dengan caraku agar mampu bertahan menghadapi semua ini. Lelah? aku memang sangat lelah, namun kemana aku harus mengadu? Hanya air mata yang mampu aku curahkan di malam hari, siang aku bagaikan batu karang yang kokoh, namun tatkala senja datang aku hanyalah batang yang rapuh…

Tarakan..disini aku sering menangis, disini aku sering sakit. Kenapa kau beri aku air mata sementara aku mau menghilangkan air mata di tanah ini? Aku benar – benar sudah sendiri, aku tak tau mana kawan mana lawan, namun tak henti semua masalah terus menghampiri…

Tarakan…di tanahmu ini, tertanam benih cintaku yang gugur tak mampu menemaniku, buah cintaku yang tak bisa lagi bertahan hidup, buah cintaku dari seorang yang sangat aku cintai, namun mungkin tak lagi mampu setia dan mencintaiku, meski aku terus merindui namun sepertinya bukan miliku lagi… dia telah lupa akan benih cintaku dan diriku…

Linangan – demi linangan air mataku hanyalah aku yang tau, perih demi perih aku lewati sendiri, akankah semua ini hanya tinggal kenangan…

Tarakan…

Arti kata tempat persinggahan, berkumpul dan makan bersama…

arti yang indah…. tapi mungkin hanyalah persinggahan saja yang aku rasa…

Tarakan… bila sakit ini , sepi ini dan perjuangan ini tak mampu lagi aku teruskan, aku akan meninggalkanmu, mencari tempat baru yang nyaman untuk hidupku…

Tarakan… di kotamu terlantun lagu sedihku, semoga suata saat nanti bila aku tinggalkan tempat ini, masih ada waktuku mengunjungimu lagi, mengenang semua kenangan pahit, indah dan segalanya…

Tarakan… banyak kenangan pahit manis di kota ini… semua hanya tinggal kenangan sebelum ku mengucap selamat tinggal semua….

13 Juni, 2009 Ditulis oleh gitasyahni | Uncategorized | | No Comments Yet