Gitasyahni’s Weblog

Senandung hati mengungkap jejak langkah kaki hidupku…

Apakah itu SAHABAT ??

Sahabat…?? Masihkah pantas aku menyebutmu sahabat? Tidak..aku tidak mendendam, namun sakit masih tersisa dikala kau muncul kembali hanya ingin meminta pertolongan.. Berkecamuk kencang degup dada ini menimbangkan langkahku, menolong atau tidak ? Aku bisa saja menolongmu namun tiba – tiba bisikan suara yang sakit melarangku.. Oh Tuhan..aku tak boleh mendendam..namun sisi lain berkata, katakan tidak bisa untuknya…

Di antara bingung itu pikiranku melayang ke masa 5 tahun yang lalu dimana aku mengalami saat – saat yang begitu pahit, saat yang menyakitkan dan saat aku hanya bisa mengharap belas kasihan dari siapapun. Namun saat itu pula dirimu semakin menjauh malah terkesan tak mau aku ada bersamamu, mungkin kamu takut aku membebanimu, oh sungguh sakit kurasa saat itu. Dengan segala alasan kau berusaha menghindar saat aku ingin bertandang ketempatmu, padahal bukan makan atau uang yang aku inginkan, aku hanya ingin kawan tempat aku menceritakan segala kepenatanku, aku ingin bisa teratawa dalam kebersamaan menghalau segala pedih yang bersarang di jiwaku. Sekian lama aku terlunta sendiri, tak seperti saat aku masih kuat, kau selalu bersamaku kapanpun aku mau. Bantuan demi bantuan kamu mohonkan, dan bukan hanya kamu tetapi semua kawan – kawan yang pernah bersamaku.

Masih ku ingat jelas saat kamu baru datang dari kampung dan bekerja di tempat yang sama dengan ku, tak segan aku berikan pakaian – pakaian dan apapun yang kupunya, kita hidup bersama seperti layaknya saudara..indah sekali. Namun dari awal aku sudah tau, bahwasanya ternyata dirimu suka berpilih teman. Lama kelamaan kau mulai memisahkan diri dan bergaul sendiri – sendiri, saat itu aku tak begitu peduli, hingga akhirnya kita berdekatan kembali. Saat itu dirimu mulai kuliah dan aku memberikan support, bukan hanya sekedar support bicara, biaya pun aku berusaha pinjami.

Hingga saat itu terjadi padaku, saat yang benar-benar menghancurkanku, disaat aku berada pada pilihan yang sulit dirimu mulai kembali menjauhiku, dirimu begitu sibuk dengan urusan pribadimu, dan seakan sulit aku temui. Saat itu aku benar-benar butuh penyemangat, butuh pemikiran mana yang harus kupilih. Tak kusangka kau malah berbalik berkawan dengan orang yang menghancurkanku. Dengan segala keputus asaan aku ambil sendiri keputusan besar itu, keluar dari perusahaan dan membawa “dia” hancur bersama… saat itu hanya sakit dan dendam yang menguasai..

Bersamaan dengan itu… dirimu benar – benar menghilang dari hari – hariku, dan aku bertekad akan melupakan semua orang yang ku kenal di perusahaan itu. Jatuh bangun aku lalui perjalanan hidupku, berjuta tangis dan menjadi senandungku, berjuta perih dan menjadi selimutku… itulah hidupku saat itu.

Dan kini… saat kamu tau aku ada dimana, setelah sekian tahun tak bersapa, tiba – tiba kamu muncul menyapaku lewat teleponmu.. entah aku tak tau dari mana kamu mendapat nomor flexi ku..

Sesaat ada rasa senang bersua kawan lama, namun sakit kembali muncul saat kamu mengutarakan tujuanmu, kamu memohon untuk meminta pertolongan uang dengan jumlah yang sangat besar bagiku. Kamu memohon mohon demi menyelamatkan uang 35 jt mu agar tidak hilang sia – sia. Oh.. segera ada bisikan dalam hati… teganya dirimu mencariku hanya karena menginginkan pertolongan?

Entah kenapa hilang seketika rasa senangku berjumpa denganmu meski hanya lewat telepon… aku memang tak punya uang sebanyak yang kamu minta, namun aku bisa saja membantumu dengan pinjam pada bosku.. tapi.. haruskah aku mesti sampai seperti itu demi dirimu? Dimana rasa hatimu dulu saat aku benar – benar terpuruk antara hidup dan mati? Dimana hatimu saat aku harus merelakan diri menjadi seorang perawat anak demi sesuap nasi dan membiayai adikku sekolah? Dimana perasaanmu saat kuliahku hampir putus saat kau menjauhiku dan aku tak punya biaya?

Tanpa memberikan janji aku hanya bilang padamu aku akan berusaha membantumu, terdengar sekali nada ceria di seberang sana, suara ceriamu karena berharap uangmu tak akan hilang… uh.. pernahkah kamu memberiku ceria saat itu…

Seharian aku berpikir bolak – balik membantu-tidak, tidak-membantu.. ? tapi rasa kasihan ini kembali datang.. inilah jiwaku , tak tega orang sengsara tanpa aku bisa berbuat apa – apa.

Seharian aku cari teman-teman yang kurasa bisa membantu, namun entah kenapa ada saja alasan mereka, mungkin mereka takut dengan jumlah sebesar itu… dan kebetulan juga bos ku sedang keluar kota..

Akhirnya aku sampaikan bahwa aku tidak bisa menolongnya, aku tau ada kekecewaan disana… namun aku juga kembali kecewa, karena hingga saat ini kamu tak pernah muncul mesi hanya sekedar SMS.. Kembali hatiku bicara, Git… itulah kawan, datang dan pergi sesukanya… sahabat hanya ada di hatimu, namun tidak di hatinya…

Baiklah..ini pelajaran berharga bagiku… biarlah tak ada sahabat, cukup kawan dan tak akan aku mencari ataupun menjauhi kawan, biarlah mereka berada disekitarku semaunya, datang aku berikan senyuman, pergi aku berikan salam… itu lebih baik rasanya… sekali lagi aku tak mendendam, hanya luka lama kembali hadir.. sejujurnya hatiku tak pernah tega..namun kenapa dia begitu tega padaku saat itu.. ah tapi sudahlah…sudahlah biarkan semua pergi berlalu.. sejatinya aku hanya tak bisa setega itu, keadaan yang membuatku tak mampu..

Jadi apakah yang semestinya ku anggapkan bagimu ? Kawan atau sahabat? Rasanya lebih indah just kawan…

29 Juni, 2009 - Ditulis oleh gitasyahni | Uncategorized | | Belum Ada Tanggapan

Belum ada komentar.

Tinggalkan sebuah tanggapan