17 NOVEMBER 1979 – 2011
17 NOVEMBER 1979
17 NOVEMBER 2011
Terimakasih ya Allah… atas ijinMu saya masih diberi nafas dan kehidupan sampai hari ini, 31 tahun sudah saya menghirup udara di bumi ini. 31 tahun sudah saya menjalani kehidupan yang berwarna ini, ada kepedihan, kesulitan, kesenangan, kemudahan dan semua problema hidup. Namun aku tetap bersyukur ya Allah atas semua karuniaMu ini…
17 November 1979, aku terlahir dari sebuah keluarga sederhana yang bisa dibilang miskin, dan menjalani semua pertumbuhanku dengan sangat sederhana. Aku terbiasa untuk tidak meminta, namun selalu di ajari mensyukuri segala yang bisa diterima. Keketatan atau mungkin kedisiplinan terus ditempa, yang melarangku selalu bermalas – malasan dan jangan pernah berharap untuk bersenang – senang. Sedari kecil sudah terbiasa dengan tugas membantu pekerjaan orang tua, dan terbiasa tidak bisa jajan seperti anak – anak berada pada umumnya. Hanya jika ada sedikit lebih orang tua kadang member i meski tidak sebesar anak – anak lain. Hanya cukup untuk permen atau kerupuk, tapi jumlah itu sungguh sudah bisa membuatku tertawa bahagia, menggenggam permen beberapa biji dengan gembira….
Aku tidak pernah duduk di bangku TK karena orang tua mengganggap belajar dirumah juga bisa, kini aku mengerti kenapa seperti itu, itu karena mereka tidak punya uang untuk memasukkanku ke TK. Aku hanya belajar dari kakak laki – laki ku dan syukurlah sebelum masuk SD aku sudah bisa membaca dan menulis. Dan aku sudah harus bisa mencuci sepatu dan membereskan sendiri semua alat sekolahku. Dan yang paling ku ingat adalah saat itu hanya 1 buku dan 1 pensil, sepatu, tas dan seragam sekolah belum tentu setahun sekali diganti, melainkan menunggu sampai betul – betul tidak bisa dipakai lagi. Terkadang sepatu sudah mulai bermulut pun ( menganga ) tetap dipakai, semua tidak boleh hilang dan harus irit. Padahal teman – teman begitu punya banyak yang beragam. Kadang rasa iri ada, tapi setiap kali aku kasih tau mamaku beliau malah marah padaku jangan ikut – ikut teman, harus selalu ditanamkan kalau kita orang yang gak berkecukupan, bahkan miskin. Aku hanya bisa diam dan melupakannya. Begitupun saat jam – jam istirahat aku tidak jajan melainkan bermain bersama anak-anak miskin lainnya sehingga tidak ada rasa ingin jajan.
Mamaku dan bapak selalu bilang, harus rajin, harus pintar dan tidak boleh malas. Lupakan jajan, lupakan hal-hal yang hanya orang kaya saja yang bisa punya. Bahkan biarpun selalu mendapatkan prestasi yang bagus disekolah , mereka tidak pernah menjanjikan apapun, karena mereka selalu berkata itu sudah kewajibanku. Yah…. Aku sudah terbiasa sejak kecil, sehingga aku selalu bisa menerima keadaan sesulit apapun yang aku jalani. Terimakasih mamah, terimakasih bapak… dulu mungkin aku membenci semua kata – katamu, tapi kini sangat berguna dalam menjalani kepahitan hidupku ini…
Dulu…. Aku ingat, tugasku adalah menjual hasil tangkapan ikan… terkadang ada rasa ingin bohong akan hasilnya, tapi begitu sampai rumah dan mamah sedang membagi – bagi kebutuhan makan aku tidak tega melakukannya… dan untunglah pembeli ikan selalu baik padaku ( baik atau kasihan aku tidak tau ) dia selalu memberiku 100 atau 200 rupiah di luar hasil penjualan sehingga aku punya uang buat beli buku sekolah yang baru. Aku dengan sepeda yang jauh lebih tinggi dan besar dari badanku terus mengayuh membawa 2 ember ikan tanpa rasa malu. Masa kecil yang susah… tapi entahlah aku iklas saja menjalaninya.
Pagi… harus sarapan meski dengan seadanya, pergi sekolah tidak ada uang jajan, dan pulang juga makan seadanya. Bahkan pernah aku makan nasi dicampur tiwul…Mamaku yang hanya tukang jahit, pembuat tempe dan membantu bapak membuat gula merah tidak pernah kudengar mengeluh. Bapak yang tiap subuh – subuh sudah memanjat pohon kelapa mengambil deresan dan siang mencari ikan dan kesawah juga tidak pernah kudengar mengeluh. Bahkan mereka selalu tertawa bersama jika hasilnya lebih banyak dari biasanya. Sehingga kamipun bisa menikmati lauk hasil tangkapan ikan karena disisakan dan tidak dijual semua. Namun tetap saja kangkung dan bayam juga rumput sawah yang biasa dimakan adalah menu utama sayuran kami.
Kelas 4 SD , aku sudah diharuskan bisa mencuci baju sendiri dan memasak untuk keluarga. Mamaku memaksa anak perempuannya harus bisa memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Saat itu ada kejengkelan rasanya… tapi kini semua benar – benar bermanfaat dikehidupanku kini… Maafkan aku ma, pak… dulu aku selalu menggerutu dalam hati… tapi semua ajaran kalian adalah benar adanya… makasih ma, pak..
Kelas 6 SD keadaan keluarga bukan makin membaik… tapi kesehatan mamah roboh karena dokter memvonis mamah diabetes akut. Setelah melahirkan adikku baru diketahui diabetes sudah parah dan 4 bulan kemudian mamah buta…. Hampir semua tugas rumah tangga aku dan nenekku yang mengerjakannya…. Ah….jadi ingat nenek…. Nenek yang baik, dan sayang sekali padaku.. Nenek yang selalu membelaku dari siapapun… dan nenek yang bisa membuatku bertahan diri dalam menerima hinaan orang. Nenek yang selalu mendiamkanku saat aku hanya bisa menangis menerima ejekan teman, dan nenek yang selalu mengelus punggungku saat aku tidur…. Nek… semoga nenek tenang disisi Allah ya… dan janganlah nenek sedih melihat nasib hidupku ini… Nenek juga wanita yang pernah disakiti laki – laki… ditipu laki – laki… tapi nenek tetap sabar membesarkan Uwa dan Bapak, dan kini aku harus mengalami yang nenek pernah rasa, sampaikan pada Allah nek… agar Allah selalu menjagaku, menguatkan aku dan memberikan aku kebahagiaan suatu saat nanti… Dari kecil aku terbiasa dihina dan nenek tau itu, banyak orang tega menyakiti aku dan nenek selalu bilang biarkan saja…. Dan hingga kini masih banyak orang yang selalu menyakiti aku dan mendustai aku nek… tapi aku akan mencoba seperti nenek….. membiarkan saja orang tersebut berbuat sesuka hatinya… mungkin mereka gembira ya nek melihatku sengsara….
Aku juga ingat…7 tahun aku dengan mamah yang sakit …. Kadang aku suka mengeluh… tapi terkadang aku sedih lihat mamah yang kadang aku suka sembunyi – sembunyi melihat tidur tapi air matanya mengalir… mamah menangis… mungkin mamah sedih dengan keadaannya.. tapi aku tak pernah berkata apapun… karena aku masih belum terlalu mengerti perasaan perih…
Menjelang mamah berpulang… mamah katakana semua yang ada dalam hati dan pikirannya, ternyata mamah bukan galak selama ini melainkan frustasi dengan keadaan sakitnya, dan sedih menyusahkan orang lain… disitulah aku sadar betapa salahnya aku selama ini yang terkadang tidak iklas merawatnya, membersihkan kotorannya dan membelikan obatnya, yang harus kutempuh jauh ke kota Cilacap sepulang sekolah setiap sebulan sekali, karena hanya bisa mengharap kiriman dari Ratino kakak laki lakiku yang harus bekerja dan mengirim uang obat mamaku dan sekolahku juga. Makasih Ang…. Aku selalu ingat hutang budiku ini…dan aku berusaha untuk tidak membantahmu…
Kini, di genap usiaku 31 tahun…… aku tiba – tiba teringat semua kehidupanku dari kecil hingga kini, aku terbiasa miskin…susah, dan menjalani kerasnya kehidupan. Namun semua kujalani tanpa perlawanan dan hanya bisa menerima dengan iklas, itu semua yang biasa di ajarkan mereka keluargaku… Aku tidak bisa berhura – hura, dan selalu menjadi penopang hidup keluarga, tapi tak apa, aku iklas… Dan saat beberapa orang senang menginjak – injak harga diri dan perasaaanku aku hanya bisa berdoa semoga Allah memaafkan mereka… saat mereka menyakiti dan mendustaiku aku hanya bisa mengadu dalam tangis digelapnya malam kepada Allah… dan hanya kepada Allah… karena aku tidak mau hati orag tua dan saudaraku menjadi sakit…. Aku hanya bisa mengatakan baik – baik saja… asalkan mereka tidak banyak bertanya. Biarlah aku saja yang merasakan semua… biarkan aku seperti nenek yang selalu menyimpan rapat semua duka dalam hati saja… sampai mati….Beruntung aku jauh dari mereka, sehingga aku tak perlu khawatir mereka tau aku sering menangis sendiri…
Nek….. aku rindu nenek… aku ingin mengatakan semua yang aku alami ini… Aku selalu melihat nenek dalam mimpi tidurku akhir –akhir ini… dan selalu melihat diriku dalam masa kecilku…. Apakah nenek juga merindukanku… Ya Allah…. Jaga lah nenek disana…. Berikan tempat terbaik untuk nenekku dan mamah ku yang sangat baik dan mulia…. Nenek dan mamah yang telah mengajari aku menghadapi kerasnya kehidupan…..
Nenek… Mamah…. Biarlah kisah cinta dan rumah tangga dalam duniaku ini selalu pahit.. Namun Allah selalu memudahkan aku dalam mendapatkan rizki….. sehingga dalam kesendirian aku tidak kekurangan…. Harta memang tidak di bawa mati, tapi setidaknya hinaan orang akan kemiskinan tidak kuterima lagi… Meski mamah dan nenek tidak menikmati hasil jerih payahku ini… namun semoga nenek dan mamah bahagia melihatnya, aku juga berusaha selalu menjenguk nenek dan mamah ke makam……
Nenek…. Mamah…. Di usiaku yang genap 31 tahun ini…. Tersenyumlah untukku disana… agar aku tenang dan kuat dalam menjalani hidup ini, dalam kepahitan, kesusahan hati dan perbuatan jahat orang…
Nenek… mamah… aku berjanji aku akan selalu tetap kuat meski dalam kelemahan… semoga bertambahnya usia ini semakin membuatku tegar….
Ya Allah…. Yang Maha Pengasih, Terimakasih atas segala karuniaMu selama ini… dan tetaplah berikan yang terbaik untukku, jagalah aku dalam IslamMu… dan kuatkan aku dari segala keadaaan… Berikan limpahan maaf dihati ini agar aku selalu bisa memaafkan orang – orang yang menyakitiku, orang – orang yang melukai perasaanku, dan orang – orang yang tega mendustaiku. Tetapkan aku selalu dijalan yang Engkau ridhoi, jauhkan dari segala perbuatan buruk ya Allah…. Dan ridhoilah segala pekerjaan yang ku jalani ini dan jauhkan dari niat – niat yang tidak Engkau sukai ya Allah…. Jauhkan aku dari segala mara bahaya… dan jagalah hatiku dari segala pikiran buruk… jauh kan aku dari segala yang tak Engkau sukai Ya Allah.. Yang Maha Penyayang, tegurlah aku dengan kasihMu ya Allah… agar aku selalu ingat dan takut kepadaMu… Bawalah aku dalam bahagia yang Engkau tawarkan…. Dan jangan biarkan aku berpaling dariMu ya Allah… dan cukupkanlah segala usaha dan keberusahaanku ini ya Allah…. Ya Allah berikanlah aku rahmatMu, Magfirah, Keutamaan, Kemuliaan , Kemudahan dan kebaikan diri…
Amin…Amin….Ya Robbal allamin…..
-
Arsip
- Desember 2011 (3)
- November 2011 (3)
- Oktober 2011 (3)
- April 2011 (1)
- Agustus 2010 (2)
- Juli 2010 (1)
- Mei 2010 (1)
- April 2010 (1)
- Maret 2010 (2)
- Januari 2010 (1)
- Desember 2009 (1)
- Oktober 2009 (1)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS



